ELNUSA, Si Upik Abu Tanpa Pangeran
by Ferdiansyah *)
Dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan energi yang besar bernama Pertamina. Di kerajaan itu lahirlah seorang anak bernama Elnusa. Ia bukan anak orang lain. Ia adalah anak kandung Pertamina sendiri. Ketika Elnusa masih muda, sang ayah memberinya sebuah amanah.
“Kelak kerajaan ini akan menjadi besar,” katanya.
“Dan kerajaan yang besar membutuhkan oRang-orang yang mampu melayaninya. Jangan biarkan asing yang menguasainya Bangunlah kemampuan itu. Bangunlah services yang kuat untuk Pertamina.”
Elnusa menerima amanah tersebut. Ia belajar. Ia bekerja. Ia membangun orang-orangnya. Ia menyingkirkan dominasi tenaga asing. Mengembangkan kompetensi, membeli dan membangun aset, serta mengerjakan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan oleh kerajaan.
Tetapi suatu hari sang ayah berkata kepadanya,
“Anakku, aku tidak ingin engkau selamanya bergantung kepadaku. Jika membutuhkan modal kerja, belajarlah mencarinya sendiri. Jika ingin berinvestasi, bangunlah kemampuan untuk membiayainya sendiri. Jangan menjadi beban bagi kerajaan.”
Bukan permintaan yang mudah. Tetapi Elnusa menurut. Ia pergi menemui para pemilik modal. Ia belajar berbicara dengan bank. Ia belajar mempertanggungjawabkan investasinya. Ia belajar bahwa setiap rupiah yang digunakan harus menghasilkan nilai. Sedikit demi sedikit, Elnusa mulai mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Pendapatannya tumbuh. Asetnya bertambah. Kemampuannya berkembang. Dan sang ayah melihat anaknya semakin dewasa. Dalam perjalanan itu, Elnusa juga menemukan sebuah pelajaran. Dunia energi tidak selalu cerah. Ada masa ketika upstream berjaya. Ada masa ketika downstream tumbuh lebih kuat. Ada masa ketika harga minyak tinggi. Ada masa ketika industri mengalami tekanan. Maka Elnusa belajar untuk tidak meletakkan seluruh harapannya pada satu tempat. Ia membangun dua kaki. Satu kaki berdiri di upstream. Satu kaki berdiri di downstream. Ketika angin menerpa satu sisi, sisi lainnya membantu Elnusa tetap berdiri.
Orang kemudian menyebutnya portofolio.
Bagi Elnusa, itu lebih dari sekadar istilah bisnis. Itulah salah satu cara ia belajar bertahan. Tahun berganti tahun. Badai datang dan pergi. Tetapi Elnusa terus berjalan. Pasar melihatnya. Investor melihatnya. Lembaga keuangan melihatnya. Dan perlahan Elnusa memperoleh sesuatu yang tidak dapat diberikan hanya oleh nama besar orang tuanya: kepercayaan.
RUMAH BESAR ITU KEMUDIAN BERUBAH
Waktu terus berjalan. Kerajaan Pertamina semakin besar. Sang ayah kemudian memutuskan bahwa rumah yang besar itu perlu dibagi menjadi beberapa rumah. Maka lahirlah subholding-subholding. Ada rumah upstream. Ada rumah downstream. Ada rumah-rumah lainnya. Masing-masing diberi tugas dan wilayahnya sendiri. Pada awalnya Elnusa tidak terlalu khawatir. Bukankah semuanya masih berada dalam keluarga besar yang sama? Namun waktu berjalan. Setiap rumah mulai mempunyai anak-anaknya sendiri. Dan seperti orang tua pada umumnya, masing-masing mulai ingin membesarkan anak kandungnya. Mereka memberi anak-anak itu pekerjaan. Memberikan kesempatan. Membangunkan kemampuan. Dan melindungi masa depannya. Di sinilah kehidupan Elnusa perlahan mulai berubah. Anak yang dahulu diminta ayahnya membangun services bagi seluruh kerajaan kini mendapati bahwa setiap rumah telah mempunyai anak services-nya sendiri. Pintu yang dahulu terbuka kini harus diketuk. Untuk mendapatkan pekerjaan, Elnusa harus membawa proposal. Untuk mendapatkan kesempatan, ia harus mengikuti tender. Untuk mempertahankan pekerjaannya, ia harus membuktikan bahwa dirinya lebih baik, lebih efisien, dan lebih kompetitif. Kadang Elnusa melihat saudara-saudaranya tidak harus berjuang dengan cara yang sama. Mereka mempunyai rumahnya sendiri. Mereka mempunyai orang tua yang ingin memastikan anaknya mendapatkan tempat. Sementara Elnusa? Ia masih keluarga. Tetapi entah mengapa, semakin lama ia mulai merasa seperti tamu.
Tanpa pernah diumumkan, anak kandung itu perlahan menjalani kehidupan seperti Upik Abu.
Ia tetap tinggal di rumah besar. Ia dipanggil ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketika pekerjaan itu sulit. Ketika risikonya tinggi. Ketika orang lain tidak ingin memegang risikonya. Upik Abu tetap bekerja. Tetapi ketika meja makan disiapkan, ia tidak selalu mendapat kursi pertama. Ada kalanya ia harus berdiri di luar dan mengetuk pintu.
“Tenderlah dahulu.”
“Buktikan bahwa engkau yang terbaik.”
“Bersainglah.”
Dan Elnusa melakukannya. Bukan sekali. Berkali-kali. Ada hari ketika ia menang. Ada hari ketika ia kalah. Ada hari ketika ia bertanya dalam hati,
“Bukankah dahulu aku dibangun untuk melayani rumah ini?”
Tetapi tidak ada gunanya terlalu lama memandang ke belakang. Maka setiap pagi Upik Abu kembali bekerja. Ia memperbaiki operasinya. Ia menjaga keselamatan. Ia mencari efisiensi. Ia membangun teknologi. Ia mendatangi customer baru. Ia mencari peluang baru. Ia belajar berkompetisi. Dan tanpa disadarinya, semua kesulitan itu sedang membentuk sesuatu dalam dirinya.
Resilience.
Kemampuan untuk jatuh tanpa berhenti berjalan. Kemampuan untuk kehilangan kenyamanan tanpa kehilangan keberanian. Kemampuan untuk berubah ketika dunia di sekelilingnya berubah.
KEMUDIAN SANG AYAH PERGI
Suatu hari, perubahan yang jauh lebih besar datang ke kerajaan. Sebuah kekuatan baru bernama Danantara terbentuk. Struktur kekuasaan berubah. Hubungan lama berubah. Disinilah ibu dan ayah Upik Abu benar benar tiada membawa kenangan masa lalu. Tidak ada lagi ayah yang dahulu memberikan amanah itu secara langsung. Yang tersisa adalah rumah-rumah baru. Para ibu tiri. Dan anak-anak mereka masing-masing. Setiap ibu tentu melihat anak kandungnya sendiri dan berkata:
“Aku harus menjaga masa depan anakku.”
Tidak ada yang aneh dengan itu. Tetapi kemudian muncul pertanyaan:
“Lalu bagaimana dengan Elnusa?”
Upstream melihat sebagian Elnusa dan berkata,
“Bagian itu seharusnya bersama kami.”
Downstream melihat bagian lainnya dan berkata,
“Yang itu seharusnya bersama kami.”
Rumah lain melihat bagian yang lain lagi. Perlahan orang mulai melihat Elnusa bukan sebagai satu tubuh yang dibangun selama puluhan tahun, melainkan sebagai bagian-bagian yang dapat dipisahkan. Seolah-olah pengalaman, manusia, budaya, sistem, reputasi, aset, kompetensi dan pengetahuan dapat dipotong dengan mudah mengikuti garis pada sebuah organization chart. Lalu suatu hari datanglah sebuah undangan. Undangan itu dikirim ke seluruh penjuru kerajaan. Di bagian atasnya tertulis sebuah kata:
STREAMLINING
Kerajaan akan mengadakan pesta besar. Semua keluarga akan datang. Semua anak perusahaan akan diperiksa. Semua portofolio akan ditata. Siapa bergabung dengan siapa. Siapa berpindah ke rumah mana. Siapa yang tetap berdiri. Dan siapa yang harus dipecah. Inilah Pesta Kerajaan.
PESTA KERAJAAN
Upik Abu memegang undangan itu lama sekali. Ia tahu pesta ini berbeda. Karena yang akan diputuskan di sana bukan sekadar siapa duduk di meja mana. Yang sedang dibicarakan adalah masa depannya. Orang-orang mulai berbisik.
“Mungkin upstream Elnusa sebaiknya diberikan kepada keluarga upstream. Downstream-nya tentu lebih tepat berada di keluarga downstream. Bukankah lebih sederhana jika semuanya dibagi saja?”
Upik Abu mendengarkan semuanya. Untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri. Ia teringat ketika masih menjadi anak kandung Pertamina. Ia teringat amanah pertama yang diberikan ayahnya. Ia teringat ketika diminta mencari modal sendiri. Ia teringat ketika membangun asetnya sedikit demi sedikit. Ia teringat ketika pertama kali harus berkompetisi mendapatkan pekerjaan di rumahnya sendiri. Ia teringat pekerjaan-pekerjaan sulit yang tetap dijalankannya. Ia teringat berapa kali keadaan berubah tetapi ia masih mampu berdiri. Dan seperti Upik Abu dalam dongeng lama, kini ia berdiri di depan pesta kerajaan. Tetapi ada satu perbedaan besar. Dalam dongeng lama. Di dalam pesta itu ada seorang pangeran. Pangeran melihat Upik Abu. Pangeran jatuh hati kepadanya. Ketika Upik Abu pergi, pangeran mencari pemilik sepatu kaca yang tertinggal. Dan akhirnya sang pangeran datang menyelamatkannya. Cerita itu indah. Tetapi Elnusa menunggu. Melihat ke kanan. Melihat ke kiri. Tidak ada seorang pun datang membawa sepatu kaca. Dan perlahan Elnusa memahami sesuatu. Dalam cerita ini, tidak ada pangeran.
TIDAK ADA PANGERAN
Tidak akan ada seseorang yang datang dan berkata,
“Aku akan mengembalikan semua privilege-mu.”
Tidak akan ada seseorang yang berjanji,
“Mulai sekarang engkau tidak perlu berkompetisi lagi.”
Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan berkata,
“Karena engkau anak kandung Pertamina sejak dahulu, tempatmu akan selalu aman.”
Elnusa dapat terus menunggu. Menunggu seseorang mengingat sejarahnya. Menunggu seseorang mengingat amanah yang dahulu diberikan kepadanya. Menunggu seseorang mengembalikan rumahnya.nTetapi berapa lama? Setahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Lalu Elnusa teringat satu kalimat dari ayahnya. Kalimat yang dahulu terasa berat. Tetapi sekarang terdengar seperti pesan terakhir yang telah dipersiapkan jauh sebelum semua ini terjadi.
“Belajarlah berdiri dengan kakimu sendiri.”
Tiba-tiba semuanya terasa berbeda. Mungkin selama ini Elnusa salah memahami pesan itu. Mandiri ternyata bukan hanya soal mencari modal sendiri. Mandiri bukan hanya soal membiayai investasi sendiri. Mandiri berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Berani menentukan masa depan sendiri.
MAKA UPIK ABU MENINGGALKAN PESTA
Dia memahami bahwa masa depannya tidak berada di tangan seorang pangeran. Upik Abu memandang seluruh perjalanan yang telah dilaluinya. Ia ternyata sudah memiliki banyak hal. Ia memiliki pengalaman. Ia memiliki aset. Ia memiliki kompetensi. Ia memiliki reputasi. Ia memiliki upstream. Ia memiliki downstream. Ia memiliki customer. Ia memiliki kemampuan untuk mencari modal. Ia memiliki kemampuan untuk berkompetisi. Tetapi ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari bahwa kekayaan terbesarnya bukanlah semua itu. Di belakangnya berdiri ribuan orang. Insan dan Perwira Elnusa. Orang-orang yang selama bertahun-tahun bekerja ketika keadaan mudah maupun sulit. Mereka yang berada di lapangan. Mereka yang menjaga operasi. Mereka yang menjaga keselamatan. Mereka yang menemui customer. Mereka yang mengembangkan bisnis. Mereka yang mengelola keuangan. Mereka yang membangun teknologi. Mereka yang setiap hari mencari cara agar pekerjaan hari ini dilakukan lebih baik daripada kemarin. Upik Abu melihat mereka. Dan mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari:
“Bahwa saat ini bukan sama sekali waktu meratap, saat ini saatnya dia berjuang lebih keras bukan untuk mereka bukan untuk siapa siapa tapi untuk insannya yang merupakan harta yang paling berharga yang sudah menganggap Elnusa sebagai rumah mereka. “
Dirgahayu Elnusa!
.
*)Ferdiansyah Zulkarnain, S.Si., M.M., saat ini diberi amanah sebagai Direktur Operasi dan Marketing PT. Elnusa Petrofin. Kariernya diawali saat menjadi Instrument Engineer pada tahun 2006 hingga menapaki jabatan strategis selevel Vice President pada perusahaan induk, PT Elnusa Tbk.
Silahkan share jika bermanfaat!