Sepuluh Intisari dari Satu Ayat by Chairul Hudaya *)
Beberapa hari lalu, saya mendapat pencerahan dari seorang calon guru besar muda yang berprestasi dan produktif. Bagaimana sebuah kalam ilahi yang disaripatikan selalu relevan dengan kondisi yang saya alami (atau bahkan kebanyakan dari kita). Tentu saja menggugah hati dan menjadi bahan perenungan.
Saya salin kembali sebagai pengingat saya dan juga sahabat semua.
Kalam Ilahi yang mana? Ayat Al Qur’an yang terdapat pada surat ke-23, Al Mu’minun, tepatnya pada ayat ke-29, yang artinya:
Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”.
Terus, apa intisarinya?
1. Latar Belakang/Awal Cerita. Setelah banjir besar yang menghancurkan kaumnya, Nabi Nuh dan para pengikutnya akhirmya selamat di atas bahtera, memasuki fase baru kehidupan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
2. Doa di Tengah Ketidakpastian. Di momen penuh ketidakpastian itu, Nabi Nuh tidak langsung berbicara tentang rencana atau strategi, tetapi memanjatkan doa agar ditempatkan pada tempat yang diberkahi oleh Allah.
3. Makna Perpindahan Hidup. Perpindahan yang dilami Nabi Nuh bukan sekedar berpindah tempat, tetapi berpindah fase kehidupan. Dari masa ujian menuju harapan, dari kehancuran menuju kemungkinan baru.
4. Inti Pesan Ayat. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perpindahan hidup seharusnya tidak hanya didorong oleh kebutuhan duniawi, tetapi juga disertai permohonan agar langkah tersebut membawa keberkahan.
5. Relevansi dengan Merantau. Seperti Nabi Nuh yang memulai hidup baru, banyak orang hari ini merantau dengan harapan yang besar. Namun, sering lupa untuk memastikan bahwa tempat yang dituju adalah tempat yang baik bagi dirinya.
6.Makna Tempat Yang Baik. Tempat yang baik bukan selalu yang paling menjanjikan secara materi. Tetapi, tempat yang menjaga nilai, memberi ketenangan, dan tidak menjauhkan seseorang dari prinsip hidupnya.
7. Relevansi dengan Dunia Kerja. Dalam memilih pekerjaan, seringkali pertimbangan hanya berhenti pada gaji dan posisi. Padahal, ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tempat bekerja dari Allah SWT jauh lebih menentukan arah hidup seseorang.
8.Dari Pekerjaan ke Jabatan. Ketika seseorang berkembang hingga memegang jabatan, ia sebenarnya sedang “ditempatkan” pada posisi tertentu oleh Allah SWT. Bukan sekedar mencapainya dengan usaha pribadi semata.
9. Kesadaran dalam Memegang Amanah. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah bentuk penempatan dari Allah SWT, sehingga harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekedar kebanggaan atau kekuasaan.
10. Reflaktif. Dari kisah Nabi Nuh, kita belajar, bahwa dalam setiap perpindahan, apakah merantau, bekerja, hingga menduduki jabatan, yang paling penting bukan hanya bergerak maju, tetapi memastikan kita berada di tempat yang diberkahi.
Dari doa Nabi Nuh sekaligus Kalam Ilahi QS Al Mu’minun ayat 29, kita belajar bahwa tempat terbaik bukan yang kita pilih, tapi yang Allah tetapkan.
Wallaahu’alam bish showab
Semoga berkenan.
.
*) Chairul Hudaya, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia. Alumni S1 Teknik Elektro Universitas Indonesia. Melanjutkan studi S2 di Seoul National University dan S3 di University of Science & Tecknology, Korea Selatan. Pernah dipercaya sebagai Rektor Universitas Teknologi Sumbawa, NTB.