Beras Jatah dan Harapan

Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, masih banyak pemandangan seorang pegawai negeri sipil dan/atau anggota TNI/Polri membawa beras jatah pada akhir bulan. Tak terkecuali dosen. Ada yang beras jatahnya dijual. Uang hasil penjualan menjadi penghasilan tambahan. Beberapa, dibelikan beras dengan varietas yang lain. Pembelinya bisa koperasi atau toko mracang di pasar.

Pemandangan itu membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik punya ide. Beberapa dosen mendapatkan beras bulanan melalui koperasi. Kami melakukan komunikasi dan memperoleh kesepakatan harga. Sehingga dalam 1 tahun, akan mendapatkan dana yang tetap. Ada tambahan layanan, uang tunai diurus dan diantar langsung. Sehingga tidak perlu repot ulang alik ke koperasi. Margin yang fixed adalah sepuluh rupiah per kilogram. Ya, Rp. 10,-/Kg. Sebagai gambaran uang kuliah saat itu Rp. 120.000,- per semester.

Dana itu kami kelola. Setiap awal bulan, kami bergiliran ke koperasi. Uang tunai hasil penjualan diambilkan lantas diantarkan kepada masing-masing dosen menggunakan amplop coklat. Kadang titip juga ke Pegawai Tata Usaha, jika tidak ketemu dosen yang dituju. Zaman itu belum banyak transaksi menggunakan transfer atau sejenisnya. Masih jadul. Cash keras.

Lha . . terus kemana larinya uang lebih tadi? Anak-anak muda tadi membuat Yayasan. Namanya Yayasan Persaudaraan. Kegiatannya fokus : pengumpulan/penjualan beras jatah dan membantu siswa/mahasiswa yang membutuhkan dukungan dana.

Sumber dananya dari dana ‘keuntungan’  pengelolaan beras jatah. membiayai mahasiswa dan siswa SMA/SMK yang berotak cemerlang, namun kurang beruntung secara ekonomi. Punya potensi putus sekolah. Dana itu setiap awal bulan, diantar ke rumah siswa. Sekalian bertemu siswanya dan juga orang tuanya. Seleksinya pun sederahana, getok tular alias dari mulut ke mulut. Di tambah kesaksian para pengusul.

Beberapa dosen suatu saat, ada yang tahu cerita kemana larinya uang beras jatah itu. Ketika mereka tahu bahwa untuk bea siswa. Mereka marah.

Lho, koen iku kok nggak kondo-kondo, lek ojir e di gawe mbiayai arek sekolah. Ngerti ngono aku nggak gelem nerimo ojir tekan dodolan beras jatahku“, begitu ujar salah satu dosen. (Terjemahan bebasnya: Kenapa kamu tidak cerita, jika dana itu digunakan untuk bea siswa. Kalau tahu seperti itu, saya tidak mau menerima uang hasil penjualan beras jatah).

Pertemuan atau lebih tepatnya pemanggilan itu, menjadi awal. Kekagetan menular. Beliau para dosen, ingin turut berbagi. Alhamdulillaah.

Walhasil, dosen yang tahu kegiatan kami, justru memberikan semua hasil penjualan beras jatahnya. Tidak mau lagi menerima amplop coklat kami. Kami pun kewalahan, dana tambah banyak. Positifnya, penyaluran ditambah, terutama usulan siswa yang pernah ditunda, karena kekurangan dana.

Pengurus Yayasan Persaudaraan pun silih berganti. Ketika pengurus akan lulus, kami mencari mahasiswa penerima estafet pengelolaan. Hand over, bagaimana tata kelola mengurus perputaran beras jatah, kemana penyalurannya hasil penjualan. Plus ada laporan keuangannya. Hampir dipastikan saldonya nol  setiap akhir bulan. Jika ada tambahan pemasukan, maka mencari lagi siswa/mahasiswa yang membutuhkan.

Pengurus terakhir yang saya ingat adalah seorang mahasiswi yang saat ini menjadi petinggi salah satu perusahaan multi nasional industri pengolahan susu. Sayangnya, setelah itu tidak terlacak. Apa pun itu, semoga menjadi amal kebaikan bapak/ibu dosen dan juga para pengurus.

Beras jatah itu telah banyak memberikan harapan baru.

Silahkan share jika bermanfaat!

Pencuri Pahala Puasa

Pencuri Pahala Puasa

by: Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak *)
(Resume dari Pengajian Rutin Sabtu Pagi, Alumni STAN 87, 14 Februari 2026)

Setiap tahun kita berpuasa. Lapar kita rasakan, haus kita tahan. Waktu terasa lebih panjang, tenaga lebih berkurang. Namun Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan kalimat yang mengguncang jiwa:

 “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ia seperti cermin. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka semua orang bisa melakukannya. Puasa adalah latihan menahan diri secara total — menahan lisan, menahan emosi, menahan pandangan, bahkan menahan keluhan hati.

Banyak pahala puasa hilang bukan karena kita makan diam-diam, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Ghibah terasa ringan. Dusta dianggap sepele. Keluhan keluar tanpa rasa syukur. Kata-kata menyakitkan terlontar tanpa pikir panjang. Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Seakan-akan Allah menegaskan: Aku tidak butuh laparmu jika akhlakmu tidak berubah.

Di zaman ini, pencuri pahala tidak hanya di ujung lidah. Ia ada di ujung jari. Jari yang menulis komentar kasar. Jari yang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Mata yang bebas melihat apa saja tanpa kontrol. HP yang seharusnya alat dakwah berubah menjadi pintu dosa.

Kita bisa saja berpuasa sepanjang hari, tetapi jika waktu kita habis untuk scroll tanpa manfaat, untuk debat tanpa adab, untuk melihat yang tidak halal — maka ruh puasa itu pelan-pelan menguap.

Pencuri lain yang paling cepat merusak adalah emosi. Mudah marah. Gampang tersinggung. Cepat membalas dengan kata-kata keras. Padahal puasa adalah sekolah kesabaran. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar orang yang diganggu saat berpuasa berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu pengingat diri bahwa kita sedang melatih jiwa.

Ada pula pencuri yang lebih halus: malas ibadah. Al-Qur’an jarang dibuka. Sedekah tidak bertambah. Berbuka tanpa rasa syukur. Shalat tetap, tetapi tidak meningkat. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka apa yang sedang kita kejar?

Puasa seharusnya menaikkan derajat takwa. Ia bukan agenda tahunan, tetapi proses pembentukan jiwa. Puasa mengajarkan kita bahwa yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram.

Karena itu, menjaga pahala puasa harus dilakukan dengan sadar. Niat diperbarui setiap hari. Lisan dijaga seketat mungkin. Emosi ditahan sebelum meledak. HP dibatasi sebelum melalaikan. Sedekah dibiasakan walau kecil. Al-Qur’an didekati walau sedikit.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar hingga maghrib. Ia tentang menjaga hati tetap hidup hingga akhir Ramadhan.

Jangan sampai kita pulang dari bulan suci ini hanya membawa haus dan lapar. Pulanglah dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjaga puasa kita dari pencuri-pencuri yang halus itu. Aamiin.

.

*) Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak. adalah seorang dosen di bidang Akuntansi dan Internal Audit. Ia pernah diberi amanah menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid. Aktivitas lainnya adalah penggerak dan pelaku kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai orang yang banyak ide inovasi yang solituf untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Silahkan share jika bermanfaat!

Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Silahkan share jika bermanfaat!

Ownership, Mengapa Itu Penting?

Tim pasti gabungan dari beberapa individu. Tiap anggota tim punya ketrampilan masing-masing. Leader harus mampu mengelolanya. Itulah seninya. Leader setelah tahu peta individu anggota timnya, ia bisa melakukan pendelegasian. Memberi kesempatan mengambil alih. Menciptakan tujuan bersama untuk mengembangkan keahlian dan kemajuan profesional individu/ Tentu saja nantinya yang juga berkontribusi terhadap pencapaian tim secara keseluruhan.

Mari ingatan kita putar beberapa tahun lalu. Banyak pelajaran dari kisah pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim sepakbola adalah gambaran tim yang efektif. Pemain pilihan didukung oleh tim yang multi talenta. Ada coach sebagai leader. Ada manajer tim yang mengurusi bagian umum. Tenaga medis juga ada. Melibatkan tenaga pengambil dan pengolah data. Satu sama lain saling melengkapi. Terlebih pada diri pemain. Ada yang spesialis juru gedor. Pengatur serangan. Pemain depan yang haus gol. Back yang bak tembok tapi lincah. Penjaga gawang yang refleknya ciamik, dan lain-lain.

Ketika itu ada tim yang mencatat sejarah. Tim Kroasia. Tapi siapa sangka, dinamika penuh drama bagaimana mengelola tim beranggotakan pemain hebat pada posisi dan punya nama besar.

Iya. Tim ini pernah memulangkan Nicola Kalinic, sang bomber AC Milan. Penyerang langgan timnas Kroasia sejak usia dini. Ia dipulangkan oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Apa pasal?  Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan menolak diturunkan ke lapangan sebagai pemain pengganti pada menit ke- 85. Injury time. Kala itu, Kroasia melawan Nigeria pada pertandingan fase grup. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangkucadangkan. Harusnya ia menjadi starter. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu. Ia lupa, bahwa ia bagian dari tim. Rasa kepemilikannya memudar, karena ia menganggap dirinya hebat. Ownershipnya luntur.

Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Pelatih menyerahkan tiket pesawat pulang ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan. Diminta angkat koper. Deretan penyerang berkurang 1 orang. Tentu ini memberatkan tim, rotasi pemain menjadi masalah. Apalagi Kroasia ketika itu sering bermain dengan perpanjangan waktu. Pergantian pemain adalah penyegaran.

Saat dipulangkan, bukannya menyesal. Kalinic nampak tak peduli bahkan cenderung bangga. Ia kedapatan mengunggah foto-fotonya di media sosial, saat sedang berwisata. Ia nampak ingin bilang, tanpa dirinya, tim Kroasia akan seperti macan ompong. Tidak bisa berbuat banyak. Keok. Tak bakal melaju ke babak knock-out.

Tapi apa yang terjadi? Tim Kroasia berhasil melewati babak awal. Tim yang memeproleh nilai sempurna, 9 dari 3 pertandingan. Mereka maju ke babak 16 besar. Dan terus melangkah maju bahkan hingga babak final.

Meski akhirnya harus puas dengan medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Permainan Kroasia di babak final ciamik. Meski kalah, kalah terhormat. Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak. Jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan Tim Kroasia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Trust and Respect

Trust dan respect itu apa sih? Apa hubungannya dengan leadership.

Trust atau kepercayaan adalah keyakinan positif yang dimiliki oleh bawahan bahwa seorang pemimpin memiliki niat baik dan kemampuan untuk bertindak demi kepentingan terbaik tim dan organisasi.

Analogi yang relatif mudah untuk menerangkan apa itu kepercayaan adalah anak kecil/bayi yang diajak senda gurau oleh ayahnya. Ayahnya melempar bayi atau anak kecil itu ke udara. Si bayi malah tertawa lepas. Ia bahagia. Senang, malah ketagihan. Kenapa kok ia tidak nangis atau teriak ? Karena si bayi tahu, bahwa ia akan ditangkap kembali oleh bapaknya. Bapaknya sedang mengajak bercanda. Bukan dilempar terus ditinggal. Atau ia sedang dibuang, dilempar dalam arti sebenarnya.

Sedangkan respect atau rasa hormat adalah pengakuan dan penghargaan yang timbal balik. Pemimpin kepada anggota timnya. Pun pengakuan dan penghargaan yang diterima pemimpin dari followernya, atas nilai intrinsik/sebenarnya, kontribusi, dan keberadaan mereka sebagai individu.

Kisah panglima perang tersohor ini dapat dijadikan bahan pelajaran. Siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Ia tak pernah kalah jika ia diberikan kepercayaan memimpin sebuah pasukan tempur. Namun, suatu saat ia diganti mendadak oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia direshuffle saat sedang memimpin pasukan pula. Semua orang khawatir, akan terjadi perlawanan, perpecahan, bahkan pasukan kocar-kacir dan kalah perang. Tapi apa yang diucapkan dan dilakukannya di luar dugaan. Ia berkata:

“Demi Allah, jika kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat ke-Islamanmu jauh lebih daripada aku dan kamu telah dijuluki sebagai orang yang dipercaya oleh Nabi? Aku pun tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi.”

Beliau mengeluarkan pernyataan itu ditujukan kepada Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi. Ia mengucapkan saat Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya, ada didepannya juga. Ia ucapkan sesaat setelah beliau menerima surat bebas tugas. Dan, hebatnya lagi, Khalid bin Walid bukannya memacu kudanya pulang. Beliau tetap ikut berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi anggota pasukan. Ia menerima perintah dan komando Abu Ubaidah. Pertempuran itu pun dimenangkan oleh Pasukan Abu Ubaidah.

Akhlak yang patut diteladani, apalagi ketika pada posisi menjadi pemimpin. Bahkan sedang tersohor pula. Ia menaruh rasa hormat sekaligus percaya kepada pimpinannya. Ia percaya hari ini pemimpin, suatu saat bisa menjadi anggota tim. Sebaliknya yang saat ini menjadi followernya, suatu saat menjadi leader. Khalid bin Walid trust & respect kepada Umar bin Khattab, pun juga kepada Abu Ubaidah. Ia membuktikan sebagai effective leader.

Trust dan respect, dua pilar fundamental yang mutlak diperlukan dalam kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan. Keduanya saling terkait erat dan menjadi perekat yang mengikat pemimpin dengan pengikut. Dua hal itu sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya sendiri.

Walk the talk.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leader and Direction

Sebuah tim harus ada pemimpin. Jika tidak, tim bisa berantakan. Leader menetapkan tujuan dan mengarahkan tim dengan tepat. John F. Kennedy, Presiden ke-35 AS, atau lebih dikenal dengan JFK pernah menyatakan :

“Effort and courage are not enough without purpose and direction.”

Benar adanya, untuk mencapai kesuksesan, usaha dan keberanian saja tidak cukup. Ia harus mempunyai target, tujuan yang bakal dicapai. Pun perlu arahan yang tepat. Ini memberikan gambaran, bahwa menjalankan sesuatu perlu tim. Ada leader dan ada follower. Harus bahu membahu, bukan semuanya ingin bertindak sebagai pemimpin, punya ijtihad atau justifikasi sendiri. Anggotanya juga mau dan mampu mengikuti arahan pemimpin. Itulah tim yang efektif.

Guna mencapai tim yang efektif  perlu pedoman arah alias kompas. Kompas menurut KBBI adalah pedoman arah. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara. North.

Tina Benson, Managing Director of Team Tactics Ia juga kontributor Chartered Management Institute, UK mengemukakan bagaimana leader membangun tim efektif yang bisa mempertahankan bisnis. Bahkan mampu memenangkan persaingan. Leader perlu fokus  hanya pada tiga hal:

“Leadership, Ownership, and Relationship.”

Leadership, ownership dan Relationship jika disingkat menjadi LOR. Lor adalah bahasa Jawa yang punya arti Utara. Gothak gathuk matuk.

Leadership

Mengelola tim yang efektif berarti menjadi pemimpin yang efektif. Memimpin dari depan dengan memberikan contoh. Ing ngarso sung tulodho. Ditengah tim ia menyemangati dan mau mendengar. Ing madyo mangun karso. Ia juga mampu memberi dorongan, pun memberi peluang pelaksanaan ide anggota tim. Tut wuri handayani.

Ownership

Rasa kepemilikan tugas pada semua tingkatan mengambil peran sangat penting untuk mencapai kesuksesan. Leader harus tahu, bahwa ia tidak hanya berada di garis terdepan, tetapi menjadi tumpuan anggota tim. Ia sepenuhnya siap untuk berbicara kepada mereka saat dibutuhkan. Karena itu salah satu cara untuk menanamkan keyakinan dalam tim. Sama seperti anggota tim harus yakin tentang tujuan proyek dan proses untuk sukses. Sense of belonging.

Relationship

Tim efektif intinya adalah hubungan tim dan bagaimana tim dipersepsikan. Ini adalah hubungan antara leader dengan follower, manajer dengan sstaf. Kualitas hubungan menentukan seberapa mulus proses delegation (pendelegasian) dan transition (transisi) dapat terjadi. Tim harus selalu menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Silahkan share jika bermanfaat!

Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Silahkan share jika bermanfaat!