Hidup, Berusaha, dan Berkarya Sebaik-baiknya Hari Ini

Ada masa yang menjemukan. Apa itu? Salah satunya adalah menunggu pesawat berangkat. Kadang sudah duduk manis di ruang tunggu, ada penundaan keberangkatan. Tak jarang, datang kepagian karena jalanan menuju bandara ternyata lengang. Masih banyak beberapa peristiwa unik lainnya.

Membunuh rasa jemu dan bosan, banyak cara. Salah satu yang sering dilakukan adalah membuka lini masa di HP android. Ini upaya agar tetap produktif.

Media sosial  pun acapkali terdapat postingan yang penuh hikmah. Bahkan menusuk dalam. Seringkali (ini yang saya alami) adalah jawaban dari pikiran yang sedang ruwet. Ketidaktahuan yang seakan tak berujung. Solusi yang masih banyak pilihan. Semuanya menimbulkan kegelisahan. Keraguan akan beraksi. Dan banyak lagi yang bergulat di otak kita.

Kali ini tangan tergerak untuk membuka android. Ini hasil temuan dari sebuah status seseorang. Saya membuka aplikasi mushaf digital, ada satu ayat yang mengena untuk diulik lebih dalam.

“Innallaaha ‘indahuu ‘ilmus-saa‘ah, wa yunazzilul-ghaiits, wa ya‘lamu maa fil-ar-ḫaam, wa maa tadrii nafsum maadzaa taksibu ghadaa, wa maa tadrii nafsum bi’ayyi ardlin tamuut, innallaaha ‘aliimun khabiir”

“Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. Begitu pula, tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Luqman: 34)

Kadang kita lambat bertindak, karena menunggu perkembangan. Menunda. Hati masih gelisah, tak enak memberikan keputusan. Penuh pertimbangan yang sebenarnya sudah banyak alternatif solusi. Padahal aksi tunda itu, memengaruhi kinerja orang lain.

Besok dan seterusnya adalah rahasia Allah. Tidak perlu ditebak. Tidak perlu gelisah. Hidup, berusaha, dan berkarya sebaik-baiknya hari ini.

Nha.. ini jawabannya. Ambil keputusan dengan mudharat paling minimal. Segera beraksi. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan.

Silahkan share jika bermanfaat!

Meminta Keberkahan

Ada kalanya saat sholat subuh kita mendengar dan menyimak imam melantunkan Doa Qunut. Ada satu penggalan qunut yang menarik:

“Wa bariklii fiimaa a’thoit”
“Dan berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan.”

Doa ini memberi pelajaran menarik. Permintaan keberkahan, bukan lebih banyak. Apa pasal? Ya, manusia hampir selalu berpikir tentang menambah. Tambah harta. Tambah aset. Tambah penghasilan.Tambah jabatan.Tambah kendaraan. Tambah usaha. Tambah pengaruh. Tambah usia.

Namun, jeda dari rukuk sebelum sujud, mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

“Sudahkah yang aku miliki membawa berkah?”

Memang banyak itu belum tentu berkah. Saya dan mungkin kebanyakan dari kita, sering mengukur keberhasilan dengan angka. Revenue dan profit semakin besar berarti semakin baik. Aset semakin banyak, punya semakin sukses. Harga saham naik terus menandakan semakin makmur. Pengikut semakin banyak, maka kita semakin berpengaruh. Jabatan semakin tinggi berarti semakin mulia.

Padahal belum tentu. Sekali lagi, belum tentu. Kenapa?

Ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi selalu merasa kurang. Hidupnya tidak tenang. Ada yang rumahnya besar, jabatannya naik terus, tapi keluarganya tidak harmonis. Ada yang memiliki banyak ilmu tetapi semakin sombong. Naudzubillaah min dzalik.

So….masalah kehidupan bukan hanya banyak atau besar atau tingginya, tapi apa yang terjadi pada diri kita setelah memilikinya. Setelah kita diberi Allah SWT Tuhan yang Maha Pemurah.

Jika harta membuat kita semakin bersyukur, mungkin itulah keberkahan. Kalau jabatan yang dipercayakan semakin naik dan tinggi, membuat kita semakin amanah, semakin dekat kepada Allah, mungkin itulah keberkahan. Jika ilmu membuat kita semakin rendah hati, mungkin itulah keberkahan.

Keberkahan bukan semata banyaknya sesuatu, tetapi kebaikan yang Allah letakkan di dalam sesuatu itu.

Kata barokah mengandung makna kebaikan yang bertambah dan menetap.
Karena itu, keberkahan tidak selalu tampak dalam bentuk jumlah. Ia bisa intangible. Suatu rezeki bisa sedikit secara angka, tetapi mampu memenuhi banyak kebutuhan. Revenue dan profit kecil secara angka, namun mampu menghidupi lebih banyak orang dan mitra kerja. Satu ilmu bisa tampak sederhana, tetapi mengubah jalan hidup seseorang. Sebuah hunian mungkin nampak kecil dan sederhana, tetapi penuh kebaikan, ketenangan, kedamaian yang selalu dirindukan untuk tempat pulang.

Kita perlu membedakan antara, banyak dan berkah. Banyak berbicara tentang jumlah. Berkah berbicara tentang manfaat, kebaikan dan ketenteraman yang Allah letakkan di dalamnya.

Itulah kenapa kita meminta keberkahan pada setiap yang diberikan Allah: fiima a’thoit. Ini sebuah pengakuan, bahwa apa yang kita miliki sebenarnya adalah pemberian Allah. Harta, aset, ilmu, jabatan, bukan semata-mata hasil kerja keras, upaya, perjuangan, dan kecerdasan kita. Kita memang belajar, bekerja, dan berjuang.

Coba kita balik bertanya, siapa yang memberikan akal, kesehatan,
kesempatan? Siapa yang mempertemukan kita dengan orang-orang tertentu? Networks yang semakin luas? Maka doa ini juga mendidik hati agar kita sadar dan mengakui bahwa semua itu adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita.

Di samping itu, keberkahan mengubah cara pandang kita. Dengan keberkahan, harta, aset, jabatan bisa menjadi sarana.

“Bagaimana menggunakan apa yang Allah berikan dengan benar?”

Jumlahnya mungkin sama. Bisa jadi kemanfaatan yang dirasakan berbeda. Di dalam apa pun yang Allah berikan, ada kebaikan yang menuntun kita kepada-Nya. Satu lagi bentuk keberkahan yang paling indah adalah Allah membuat hati kita merasa cukup. Bukan berarti berhenti berusaha dan berjuang. Tidak boleh juga berhenti memiliki cita-cita. Bukan berarti tidak boleh menjadi kaya.

Kita tetap berusaha keras, tetapi tidak menyembah hasil. Kita mengejar target keberhasilan, tetapi tidak kehilangan Allah. Kita mencari rezeki, tetapi tidak menghalalkan segala cara. kita memiliki harta, aset, jabatan di tangan, tetapi tidak membiarkannya menguasai hati kita.

Waktu sebelum sujud itu banyak memberikan hikmah. Mari melihat kembali apa yang sudah Allah berikan.

“Ya Allah, aku mungkin masih menginginkan banyak hal. Tetapi sebelum Engkau menambah sesuatu kepadaku, berkahilah terlebih dahulu apa yang sudah ada dalam hidupku.”

“Jangan biarkan pemberian-Mu menjadi sebab aku jauh dari-Mu”.

“Jadikan apa yang Engkau berikan sebagai jalan menuju kebaikan”.

Wa baariklii fiimaa a’thoit. Ya Allah, berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku.

Wallaahu a’lam bish showab

Serambi Masjid Assalaam, Duri.

Silahkan share jika bermanfaat!

ELNUSA, Si Upik Abu Tanpa Pangeran

ELNUSA, Si Upik Abu Tanpa Pangeran
by Anonim *)

Dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan energi yang besar bernama Pertamina. Di kerajaan itu lahirlah seorang anak bernama Elnusa. Ia bukan anak orang lain. Ia adalah anak kandung Pertamina sendiri. Ketika Elnusa masih muda, sang ayah memberinya sebuah amanah.

“Kelak kerajaan ini akan menjadi besar,” katanya.

“Dan kerajaan yang besar membutuhkan oRang-orang yang mampu melayaninya. Jangan biarkan asing yang menguasainya Bangunlah kemampuan itu. Bangunlah services yang kuat untuk Pertamina.”

Elnusa menerima amanah tersebut. Ia belajar. Ia bekerja. Ia membangun orang-orangnya. Ia menyingkirkan dominasi tenaga asing. Mengembangkan kompetensi, membeli dan membangun aset, serta mengerjakan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan oleh kerajaan.

Tetapi suatu hari sang ayah berkata kepadanya,

“Anakku, aku tidak ingin engkau selamanya bergantung kepadaku. Jika membutuhkan modal kerja, belajarlah mencarinya sendiri. Jika ingin berinvestasi, bangunlah kemampuan untuk membiayainya sendiri. Jangan menjadi beban bagi kerajaan.”

Bukan permintaan yang mudah. Tetapi Elnusa menurut. Ia pergi menemui para pemilik modal. Ia belajar berbicara dengan bank. Ia belajar mempertanggungjawabkan investasinya. Ia belajar bahwa setiap rupiah yang digunakan harus menghasilkan nilai. Sedikit demi sedikit, Elnusa mulai mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Pendapatannya tumbuh. Asetnya bertambah. Kemampuannya berkembang. Dan sang ayah melihat anaknya semakin dewasa. Dalam perjalanan itu, Elnusa juga menemukan sebuah pelajaran. Dunia energi tidak selalu cerah. Ada masa ketika upstream berjaya. Ada masa ketika downstream tumbuh lebih kuat. Ada masa ketika harga minyak tinggi. Ada masa ketika industri mengalami tekanan. Maka Elnusa belajar untuk tidak meletakkan seluruh harapannya pada satu tempat. Ia membangun dua kaki. Satu kaki berdiri di upstream. Satu kaki berdiri di downstream. Ketika angin menerpa satu sisi, sisi lainnya membantu Elnusa tetap berdiri.

Orang kemudian menyebutnya portofolio.

Bagi Elnusa, itu lebih dari sekadar istilah bisnis. Itulah salah satu cara ia belajar bertahan. Tahun berganti tahun. Badai datang dan pergi. Tetapi Elnusa terus berjalan. Pasar melihatnya. Investor melihatnya. Lembaga keuangan melihatnya. Dan perlahan Elnusa memperoleh sesuatu yang tidak dapat diberikan hanya oleh nama besar orang tuanya: kepercayaan.

RUMAH BESAR ITU KEMUDIAN BERUBAH

Waktu terus berjalan. Kerajaan Pertamina semakin besar. Sang ayah kemudian memutuskan bahwa rumah yang besar itu perlu dibagi menjadi beberapa rumah. Maka lahirlah subholding-subholding. Ada rumah upstream. Ada rumah downstream. Ada rumah-rumah lainnya. Masing-masing diberi tugas dan wilayahnya sendiri. Pada awalnya Elnusa tidak terlalu khawatir. Bukankah semuanya masih berada dalam keluarga besar yang sama? Namun waktu berjalan. Setiap rumah mulai mempunyai anak-anaknya sendiri. Dan seperti orang tua pada umumnya, masing-masing mulai ingin membesarkan anak kandungnya. Mereka memberi anak-anak itu pekerjaan. Memberikan kesempatan. Membangunkan kemampuan. Dan melindungi masa depannya. Di sinilah kehidupan Elnusa perlahan mulai berubah. Anak yang dahulu diminta ayahnya membangun services bagi seluruh kerajaan kini mendapati bahwa setiap rumah telah mempunyai anak services-nya sendiri. Pintu yang dahulu terbuka kini harus diketuk. Untuk mendapatkan pekerjaan, Elnusa harus membawa proposal. Untuk mendapatkan kesempatan, ia harus mengikuti tender. Untuk mempertahankan pekerjaannya, ia harus membuktikan bahwa dirinya lebih baik, lebih efisien, dan lebih kompetitif. Kadang Elnusa melihat saudara-saudaranya tidak harus berjuang dengan cara yang sama. Mereka mempunyai rumahnya sendiri. Mereka mempunyai orang tua yang ingin memastikan anaknya mendapatkan tempat. Sementara Elnusa? Ia masih keluarga. Tetapi entah mengapa, semakin lama ia mulai merasa seperti tamu.

Tanpa pernah diumumkan, anak kandung itu perlahan menjalani kehidupan seperti Upik Abu.

Ia tetap tinggal di rumah besar. Ia dipanggil ketika ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ketika pekerjaan itu sulit. Ketika risikonya tinggi.  Ketika orang lain tidak ingin memegang risikonya. Upik Abu tetap bekerja. Tetapi ketika meja makan disiapkan, ia tidak selalu mendapat kursi pertama. Ada kalanya ia harus berdiri di luar dan mengetuk pintu.

“Tenderlah dahulu.”

“Buktikan bahwa engkau yang terbaik.”

“Bersainglah.”

Dan Elnusa melakukannya. Bukan sekali. Berkali-kali. Ada hari ketika ia menang. Ada hari ketika ia kalah. Ada hari ketika ia bertanya dalam hati,

“Bukankah dahulu aku dibangun untuk melayani rumah ini?”

Tetapi tidak ada gunanya terlalu lama memandang ke belakang. Maka setiap pagi Upik Abu kembali bekerja. Ia memperbaiki operasinya. Ia menjaga keselamatan. Ia mencari efisiensi. Ia membangun teknologi. Ia mendatangi customer baru. Ia mencari peluang baru. Ia belajar berkompetisi. Dan tanpa disadarinya, semua kesulitan itu sedang membentuk sesuatu dalam dirinya.

Resilience.

Kemampuan untuk jatuh tanpa berhenti berjalan. Kemampuan untuk kehilangan kenyamanan tanpa kehilangan keberanian. Kemampuan untuk berubah ketika dunia di sekelilingnya berubah.

KEMUDIAN SANG AYAH PERGI

Suatu hari, perubahan yang jauh lebih besar datang ke kerajaan. Sebuah kekuatan baru bernama Danantara terbentuk. Struktur kekuasaan berubah. Hubungan lama berubah. Disinilah ibu dan ayah Upik Abu benar benar tiada membawa kenangan masa lalu. Tidak ada lagi ayah yang dahulu memberikan amanah itu secara langsung. Yang tersisa adalah rumah-rumah baru. Para ibu tiri. Dan anak-anak mereka masing-masing. Setiap ibu tentu melihat anak kandungnya sendiri dan berkata:

“Aku harus menjaga masa depan anakku.”

Tidak ada yang aneh dengan itu. Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

“Lalu bagaimana dengan Elnusa?”

Upstream melihat sebagian Elnusa dan berkata,

“Bagian itu seharusnya bersama kami.”

Downstream melihat bagian lainnya dan berkata,

“Yang itu seharusnya bersama kami.”

Rumah lain melihat bagian yang lain lagi. Perlahan orang mulai melihat Elnusa bukan sebagai satu tubuh yang dibangun selama puluhan tahun, melainkan sebagai bagian-bagian yang dapat dipisahkan. Seolah-olah pengalaman, manusia, budaya, sistem, reputasi, aset, kompetensi dan pengetahuan dapat dipotong dengan mudah mengikuti garis pada sebuah organization chart. Lalu suatu hari datanglah sebuah undangan. Undangan itu dikirim ke seluruh penjuru kerajaan. Di bagian atasnya tertulis sebuah kata:

STREAMLINING

Kerajaan akan mengadakan pesta besar. Semua keluarga akan datang. Semua anak perusahaan akan diperiksa. Semua portofolio akan ditata. Siapa bergabung dengan siapa. Siapa berpindah ke rumah mana. Siapa yang tetap berdiri. Dan siapa yang harus dipecah. Inilah Pesta Kerajaan.

PESTA KERAJAAN

Upik Abu memegang undangan itu lama sekali. Ia tahu pesta ini berbeda. Karena yang akan diputuskan di sana bukan sekadar siapa duduk di meja mana. Yang sedang dibicarakan adalah masa depannya. Orang-orang mulai berbisik.

“Mungkin upstream Elnusa sebaiknya diberikan kepada keluarga upstream. Downstream-nya tentu lebih tepat berada di keluarga downstream. Bukankah lebih sederhana jika semuanya dibagi saja?”

Upik Abu mendengarkan semuanya. Untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri. Ia teringat ketika masih menjadi anak kandung Pertamina. Ia teringat amanah pertama yang diberikan ayahnya. Ia teringat ketika diminta mencari modal sendiri. Ia teringat ketika membangun asetnya sedikit demi sedikit. Ia teringat ketika pertama kali harus berkompetisi mendapatkan pekerjaan di rumahnya sendiri. Ia teringat pekerjaan-pekerjaan sulit yang tetap dijalankannya. Ia teringat berapa kali keadaan berubah tetapi ia masih mampu berdiri. Dan seperti Upik Abu dalam dongeng lama, kini ia berdiri di depan pesta kerajaan. Tetapi ada satu perbedaan besar. Dalam dongeng lama. Di dalam pesta itu ada seorang pangeran. Pangeran melihat Upik Abu. Pangeran jatuh hati kepadanya. Ketika Upik Abu pergi, pangeran mencari pemilik sepatu kaca yang tertinggal. Dan akhirnya sang pangeran datang menyelamatkannya. Cerita itu indah. Tetapi Elnusa menunggu. Melihat ke kanan. Melihat ke kiri. Tidak ada seorang pun datang membawa sepatu kaca. Dan perlahan Elnusa memahami sesuatu. Dalam cerita ini, tidak ada pangeran.

TIDAK ADA PANGERAN

Tidak akan ada seseorang yang datang dan berkata,

“Aku akan mengembalikan semua privilege-mu.”

Tidak akan ada seseorang yang berjanji,

“Mulai sekarang engkau tidak perlu berkompetisi lagi.”

Tidak ada jaminan bahwa seseorang akan berkata,

“Karena engkau anak kandung Pertamina sejak dahulu, tempatmu akan selalu aman.”

Elnusa dapat terus menunggu. Menunggu seseorang mengingat sejarahnya. Menunggu seseorang mengingat amanah yang dahulu diberikan kepadanya. Menunggu seseorang mengembalikan rumahnya.nTetapi berapa lama? Setahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Lalu Elnusa teringat satu kalimat dari ayahnya. Kalimat yang dahulu terasa berat. Tetapi sekarang terdengar seperti pesan terakhir yang telah dipersiapkan jauh sebelum semua ini terjadi.

“Belajarlah berdiri dengan kakimu sendiri.”

Tiba-tiba semuanya terasa berbeda. Mungkin selama ini Elnusa salah memahami pesan itu. Mandiri ternyata bukan hanya soal mencari modal sendiri. Mandiri bukan hanya soal membiayai investasi sendiri. Mandiri berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Berani menentukan masa depan sendiri.

MAKA UPIK ABU MENINGGALKAN PESTA

Dia memahami bahwa masa depannya tidak berada di tangan seorang pangeran. Upik Abu memandang seluruh perjalanan yang telah dilaluinya. Ia ternyata sudah memiliki banyak hal. Ia memiliki pengalaman. Ia memiliki aset. Ia memiliki kompetensi. Ia memiliki reputasi. Ia memiliki upstream. Ia memiliki downstream. Ia memiliki customer. Ia memiliki kemampuan untuk mencari modal. Ia memiliki kemampuan untuk berkompetisi. Tetapi ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari bahwa kekayaan terbesarnya bukanlah semua itu. Di belakangnya berdiri ribuan orang. Insan dan Perwira Elnusa. Orang-orang yang selama bertahun-tahun bekerja ketika keadaan mudah maupun sulit. Mereka yang berada di lapangan. Mereka yang menjaga operasi. Mereka yang menjaga keselamatan. Mereka yang menemui customer. Mereka yang mengembangkan bisnis. Mereka yang mengelola keuangan. Mereka yang membangun teknologi. Mereka yang setiap hari mencari cara agar pekerjaan hari ini dilakukan lebih baik daripada kemarin. Upik Abu melihat mereka. Dan mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari:

“Bahwa saat ini bukan sama sekali waktu meratap, saat ini saatnya dia berjuang lebih keras bukan untuk mereka bukan untuk siapa siapa tapi untuk insannya yang merupakan harta yang paling berharga yang sudah menganggap Elnusa sebagai rumah mereka. “

Dirgahayu Elnusa!
.

*)Saya tulis anonim, karena ini bukan karya tulis saya. Isinya merupakan uneg-uneg dan pendapat pribadi penulisnya. Saya menemukan saat mendapat pesan dari sebuah WAG. Saya mencoba menelusurinya. Meski belum berhasil, namun saya mempostingnya tetap sebagai karya tokoh.

Silahkan share jika bermanfaat!

Ketampanan, Risiko dan Hikmah

Tampan atau ganteng adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia yang berarti elok, rupawan, dan menarik perhatian. Atribut ini disematkan khusus untuk laki-laki. Secara psikologis dan sosiologis, memiliki wajah tampan membawa beberapa keuntungan dalam kehidupan sehari-hari.

Apa saja kelebihannya:
1. Efek Halo atau Wow (Hallo Effect): Orang tampan otomatis dinilai lebih cerdas, jujur, dan baik hati pada pandangan pertama.
2. Keuntungan Karier: Penampilan menarik membuka peluang lebih besar dalam wawancara kerja, negosiasi bisnis, dan penjualan. Kesan pertama bisa memengaruhi proses selanjutnya.
3. Kemudahan Bersosialisasi: Lebih mudah mendapatkan perhatian positif, bantuan dari orang lain, dan memperluas jaringan pertemanan. Ia menjadi magnet.
4. Kepercayaan Diri Tinggi: Daya tarik visual yang diakui lingkungan sekitar. Secara tidak langsung meningkatkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi.

Namun, kegantengan itu bukannya tanpa risiko. Sekelas Nabi Yusuf a.s. pun pernah mendapatkan risiko itu. Beliau mendapat ujian besar yang memicu godaan maksiat dari wanita bangsawan Mesir (Zulaikha). Nabi Yusuf harus mendekam dipenjara demi menjaga kesucian diri.

Risiko Ketampanan yang dinukilkan dari kisah Nabi Yusuf a.s. termaktub dalam Surat Yusuf.

Apa saja pelajaran berharga itu?
1. Menjadi Ujian Hubungan Keluarga: Ketampanannya membuat saudara-saudaranya merasa iri dan dengki hingga tega membuangnya ke dalam sumur. Kalah saingan dan disingkirkan.
2. Godaan dan Fitnah Syahwat: Paras rupawannya membuat para wanita bangsawan Mesir terperanjat hingga tak sadar melukai tangan mereka sendiri saat memotong buah. Godaan itu nyata, tetapi pilihan Nabi Yusuf untuk menjaga diri lebih mulia.
3. Fitnah Pemenjaraan: Penolakan Nabi Yusuf a.s. terhadap ajakan berzina dari Zulaikha berisiko besar hingga ia harus dipenjara bertahun-tahun demi mempertahankan kehormatan dan ketaatannya kepada Allah SWT.

Dalam kisah Nabi Yusuf tersebut juga tersimpan hikmah yang mendalam. Bagaimana ketampanan bisa menjadi added value:
1. Sarana Menjaga Kehormatan: Menunjukkan bahwa keindahan fisik harus dikendalikan oleh keimanan yang kokoh. Benteng agar tidak menjerumuskannya ke dalam keburukan. Ya betul, nikmat fisik pun harus dijaga agar tidak menjerumuskan diri dan orang lain
2. Pelajaran Kesabaran: Ujian silih berganti akibat ketampanannya, membentuk karakter sabar, tabah, dan tawakal tingkat tinggi pada diri Nabi Yusuf a.s.
3. Kemuliaan dan Kedudukan: Menjadi jalan pembuka bagi Allah SWT untuk mengangkat derajatnya sebagai pemimpin yang bijaksana. Salah satunya menjadi pejabat di Mesir dalam mengelola urusan pangan umat manusia.

Pesan penting pada kajian siang ini adalah ketampanan dan ketertarikan yang tidak dijaga dapat membuat seseorang kehilangan kendali.

Ketinggian derajat tidak otomatis membuat seseorang terjaga dari dosa. Hanya takwa yang menjaga.

Penggalan ayat ini menjadi pengingat : “qaththa‘na aydiyahunna”, tanpa sadar melukai diri sendiri.

Tatkala syahwat memimpin, akal kehilangan kendali.

Semoga kita semua terhindar dari ujian buruk ketampanan itu.
Wallaahu a’lam bish showwab

Hikmah Sholat Jumat
Masjid Ar-Ridho, Jurangmangu Timur, 28 Agustus 2026.

Silahkan share jika bermanfaat!

Makan dan Minum, Obat Kegelisahan

Tak jarang, kita ditimpa masalah atau kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Itu membuat gelisah, gundah, dan sedih. Manusiawi. Move on-nya bisa singkat atau ada juga yang butuh waktu relatif lama.

Mari kita cermati bagaimana Allah SWT mengajarkan untuk beradaptasi dengan kondisi kegelisahan itu. Allah SWT tidak hanya memerintahkan untuk bersabar dan menjadi kuat. Tapi tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi fisik manusia. Bagaimana menjaga kebutuhan fisik melalui makan dan minum.

Sebuah pesan pernah hinggap di WA dari salah satu guru kehidupan saya, KH. Masturi Istamar:

“Bahkan ketika kita sedih, Allah tidak langsung menyuruh kita kuat, melainkan: makan.”

Seperti biasa, saya coba mengulik landasan pesan itu. Memang unik cara guru ini memberi pelajaran. Kalimat pendek disampaikan untuk memantik keingintahuan kita.

Pesan tersebut salah satunya dikaitkan dengan kisah Bunda Maryam ketika menghadapi ujian yang sangat berat.

Allah SWT memerintahkan Maryam untuk makan, minum, dan menenangkan hatinya setelah melalui proses persalinan Nabi Isa. Beliau dalam kondisi penuh tekanan dan kesedihan. Kisah itu termaktub dalam Surat Maryam ayat 26:

“Maka makanlah dan minumlah serta bersenang hatilah. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
(QS. Maryam: 26)

Ayat tersebut mengandung sejumlah hikmah yang dapat menjadi pelajaran bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

1. Pentingnya menjaga kesehatan fisik. Dalam kondisi sedih, stres, maupun kelelahan, tubuh tetap membutuhkan asupan makanan dan minuman yang cukup. Fisik yang kuat memberi energi untuk menghadapi masalah.
2. Pentingnya menenangkan hati dan berserah diri kepada Allah SWT. Frasa “qarrii ‘ainaa” dalam ayat tersebut bermakna menenangkan hati atau menyejukkan pandangan. Manusia tidak perlu cemas berkepanjangan setelah melakukan ikhtiar.
3. Berupaya keras menghindari perdebatan yang tidak memberikan manfaat. Dalam kisah Maryam, Allah memerintahkan untuk berpuasa bicara agar tidak terjebak dalam perdebatan maupun menghadapi tuduhan yang menyakitkan. Jika terpaksa, response seperlunya saja

Masya Allah, Al-Qur’an tidak hanya memberikan tuntunan dalam beribadah, namun juga memberikan panduan dalam menghadapi kondisi psikologis manusia.

Menghadapi dan mengalami masa sesulit apa pun, kita diajarkan untuk tetap menjaga kesehatan, menenangkan pikiran, memperbanyak doa, serta mencari cara yang baik untuk mengelola tekanan agar mampu menghadapi ujian dengan lebih tenang.

Wallahu a’lam bish showab

Klandungan, Dau : 26 Agustus 2026.

Silahkan share jika bermanfaat!

Surat Al-Insyirah, Insinyur, dan Ketahanan Mental

Surat Al Insyirah sering disebut Surat Alam Nasyrah. Firman Allah ini mengajarkan bahwa penerimaan masalah akan membuka jalan keluar. Kerja keras adalah kunci mengatasi rintangan. Orientasi hidup harus ditujukan kepada Sang Pencipta.

Mari disimak tafsir dan penerapannya bagi seorang insinyur. Sebetulnya bisa bagi siapa saja. Akuntan. Dokter. Auditor. Dan profesi lainnya.
.
Ayat 1: Kelapangan Dada
a lam nasyraḫ laka shadrak (Bukankah Kami telah melapangkan dadamu Nabi Muhammad))

Allah SWT menegaskan bahwa DIA telah melapangkan dada Nabi Muhammad SAW untuk menerima kebenaran dan beban dakwah. Kelapangan kalbu adalah kunci utama menerima ilmu dan hidayah.
.
Bagaimana penerapan bagi Insinyur:

Engineer harus membangun mental yang terbuka (growth mindset). Seorang insinyur harus lapang menerima kritik desain, perubahan spesifikasi proyek, dan tuntutan kolaborasi di lapangan.
.
Ayat 2 & 3: Pelepasan.

wa wadla‘nâ ‘angka wizrak. alladzii anqadla dhahrak (meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu. yang memberatkan punggungmu)
.
Allah SWT meringankan beban berat (tugas kenabian) yang sebelumnya sangat memberatkan dan membebani punggung Rasulullah SAW.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia mampu memecahkan masalah kompleks. Saat menghadapi beban kerja atau masalah teknis yang rumit. Insinyur dapat membaginya menjadi modul atau fase kerja yang lebih kecil agar lebih mudah diselesaikan.
.
Ayat 4: Peninggian

wa rafa‘naa laka dzikrak (dan meninggikan derajat-mu  dengan selalu menyebut-nyebut nama-mu?)

Allah SWT meninggikan sebutan nama Nabi Muhammad SAW. Nama beliau selalu bersanding dengan nama Allah dalam syahadat dan pujian.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Seorang engineer harus mau dan mampu membangun kredibilitas melalui integritas dan dedikasi pada profesi. Menjaga kualitas hasil rekayasa hingga diakui dan dipercaya oleh klien atau masyarakat.
.
Ayat 5 & 6: Kemudahan Bersama Kesulitan

fa inna ma‘al-‘usri yusraa. inna ma‘al-‘usri yusraa (Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan)
.
Penegasan mutlak dari Allah SWT bahwa di dalam setiap kesulitan pasti selalu ada kemudahan (fa inna ma’al-usri yusra). Diulang dua kali untuk memantapkan keyakinan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ia pantang menyerah saat desain atau uji coba gagal. Hitung lagi. Buat Cost Estimasi lagi. Coba lagi. Tes lagi. Setiap tantangan teknis, kegagalan struktur, atau bug sistem pasti memiliki solusi rekayasa (teknik) yang bisa ditemukan melalui analisis mendalam dan eksperimen.
.
Ayat 7: Etos Kerja Konsisten

fa idzaa faraghta fanshab (Apabila engkau telah selesai dengan suatu kebajikan, teruslah bekerja keras untuk kebajikan yang lain)
.
Perintah Sang Maha Kuasa kepada Nabi SAW, apabila selesai dari suatu urusan, maka segera mengerjakan urusan yang lain juga dengan sungguh-sungguh.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Insinyur mampu menelorkan dan menerapkan produktivitas yang berkelanjutan (continuous improvement). Saat satu fase proyek atau checklist tugas selesai, langsung beralih dan fokus pada fase pengembangan selanjutnya tanpa menunda-nunda. Sekali lagi tanpa menunda. Tekan enter, bukan ENTAR.
.
Ayat 8: Berharap Hanya kepada Allah

wa ilaa rabbika farghab (Dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!)
.
Perintah untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dan harapan dari setiap usaha yang dilakukan.
.
Penerapan bagi Insinyur:

Ini yang penting. Tiada daya upaya karena ridlo Allah. Ia perlu menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Setelah melakukan kalkulasi matematis dan penerapan ilmu fisika terbaik pada sebuah proyek, serahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Semoga membawa manfaat.

Salam Insinyur Indonesia!
.
.
.
Salam takzim dengan penuh kebanggaan.
Goresan pena penyemangat bagi Perwira EFK yang akan dilantik dan diambil sumpah sebagai Insinyur pada 25 Juli 2025 pada Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.

Silahkan share jika bermanfaat!

Proses Bisnis

Pada sebuah lokakarya, salah seorang peserta berkesempatan menceritakan kegiatan kerjanya. Ia seorang ibu dengan masa kerja 37 tahun. Wow… tiga puluh tujuh tahun! Satu masa kerja yang tidak bisa dibilang pendek. Mungkin masa kerja beliau lebih lama dari usia salah satu dari pembaca.

Dengan kalimat yang lancar, ibu itu menceritakan bagaimana perjalanan sebuah dokumen kebijakan subsektor industri. Dimulai dari ia menerima surat tugas. Ibu itu memeriksa, mengerjakan tugas sesuai porsinya. Sebagian lagi ia meminta data tambahan kepada seksi yang lain. Secara paralel ia juga meminta data dan masukan dari tim hukum. Setelah data terkumpul maka perlu dilakukan verifikasi. Singkat cerita, tugas pun dituntaskan. Hasil yang sudah hampir final selanjutnya disampaikan kepada pimpinannya. Hingga akhirnya dokumen berada di meja pimpinan. Pimpinan memeriksa dan memberikan persetujuan. Dokumen pun usai. Segepok kertas itu pun dikirimkan kepada fungsi yang lain untuk ditindaklanjuti.

“Atas penjelasan tadi, apakah saat ini fungsi ibu sudah memiliki proses bisnis?” Mentor Lokakarya tersebut mencoba bertanya.

“Ndak punya e, Pak. Makanya saya ikut lokakarya ini,” beliau menjawab sembari tersipu malu.

Menarik mendengar jawaban perempuan yang masih terlihat segar dan bersemangat. Pertanyaan pentingnya, apakah benar ibu yang sudah menghabiskan waktu 37 tahun di kantornya itu tidak mempunyai proses bisnis? Atau jangan-jangan beliau tidak mengerti apa itu proses bisnis?

Mari kita simak definisi  dari proses bisnis. Michael Hammer & James Champy memberikan penjelasan arti proses bisnis sebagai berikut:

“Kumpulan aktivitas yang membutuhkan satu atau lebih input dan menghasilkan output yang bermanfaat bagi pelanggan”

Bukankah si ibu  itu sudah bisa menjelaskan kegiatan dan rangkaiannya? Sudah pasti pekerjaannya membutuhkan beberapa input. Di dalam paparnnya si ibu menjelaskan  bahwa dia juga memerlukan masukan dari seksi-seksi yang lain. Dan dokumen yang sudah dikerjakan itu atau sering disebut output, juga akhirnya berlanjut ke fungsi yang lain. Dalam hal ini fungsi yang lain itu adalah pelanggannya. Maka sudah pasti ia punya proses bisnis.

Ya, betul. Pada dasarnya, organisasi yang sudah berjalan, baik profit maupun non profit, pasti punya proses bisnis. Dan tentu saja proses bisnis itu tidak melulu proses yang menghasilkan uang. Jadi sebenarnya, si ibu itu sudah mempunyai proses bisnis. Hanya saja proses bisnis fungsinya belum didokumentasikan.

Sepakat, bukan? Jika ketika bicara dan diskusi tentang proses bisnis, maka yang dimaksud adalah proses bisnis yang tertulis. Dokumen proses bisnis. Dokumen proses bisnis inilah yang harus ada.

Bagaimana jika sudah punya tapi masih di awang-awang atau belum tertulis? Inilah yang banyak dijumpai di sebagian besar organisasi baik profit maupun non profit di negeri ini. Banyak data dan informasi penting dari perusahaan berada di kepala beberapa gelintir orang. Tidak heran banyak perusahaan kelimpungan saat karyawan yang selama ini menguasai informasi penting tiba-tiba resign.

Maka, langkah yang utama dan pertama adalah membuatnya atau menuliskannya. Tidak ada yang lain. Bagaimana membuatnya ? Sangat mudah.

Langkah awalnya adalah dengan menceritakan pekerjaan yang sudah dilakukan selama ini. Lalu menuliskan keterangan atau cerita itu di atas secarik kertas. Bila perlu tambahkan beberapa kalimat pertanyaan pemicu untuk mempermudahnya. Beberapa daftar pertanyaan yang bisa membantu adalah sebagai berikut:

  • Apa aktivitasnya?
  • Input atau masukannya apa?
  • Bagaimana urutannya?
  • Ketertkaitannya antar aktivitas bagaimana?
  • Siapa yang mengerjakan?
  • Outputnya berupa apa?
  • Siapa pelanggannya?

Tiap aktivitas dibuat simbol. Kotak semua juga boleh. Tipsnya, 1 aktivitas dengan 1 penanggung jawab dibuat 1 kotak. Baru kemudian diberikan alur. Gambarkan urutan dari input hingga output. Jangan lupa keterkaitan antar aktivitas dibuat juga. Mudah bukan?

Silahkan share jika bermanfaat!