Perpindahan dan Pelajaran

Sepuluh Intisari dari Satu Ayat by Chairul Hudaya *)

Beberapa hari lalu, saya mendapat pencerahan dari seorang calon guru besar muda yang berprestasi dan produktif. Bagaimana sebuah kalam ilahi yang disaripatikan selalu relevan dengan kondisi yang saya alami (atau bahkan kebanyakan dari kita). Tentu saja menggugah hati dan menjadi bahan perenungan.

Saya salin kembali sebagai pengingat saya dan juga sahabat semua.

Kalam Ilahi yang mana? Ayat Al Qur’an yang terdapat pada surat ke-23, Al Mu’minun, tepatnya pada ayat ke-29, yang artinya:

Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”.

Terus, apa intisarinya?
1. Latar Belakang/Awal Cerita. Setelah banjir besar yang menghancurkan kaumnya, Nabi Nuh dan para pengikutnya akhirmya selamat di atas bahtera, memasuki fase baru kehidupan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

2. Doa di Tengah Ketidakpastian. Di momen penuh ketidakpastian itu, Nabi Nuh tidak langsung berbicara tentang rencana atau strategi, tetapi memanjatkan doa agar ditempatkan pada tempat yang diberkahi oleh Allah.

3. Makna Perpindahan Hidup. Perpindahan yang dilami Nabi Nuh bukan sekedar berpindah tempat, tetapi berpindah fase kehidupan. Dari masa ujian menuju harapan, dari kehancuran menuju kemungkinan baru.

4. Inti Pesan Ayat. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perpindahan hidup seharusnya tidak hanya didorong oleh kebutuhan duniawi, tetapi juga disertai permohonan agar langkah tersebut membawa keberkahan.

5. Relevansi dengan Merantau. Seperti Nabi Nuh yang memulai hidup baru, banyak orang hari ini merantau dengan harapan yang besar. Namun, sering lupa untuk memastikan bahwa tempat yang dituju adalah tempat yang baik bagi dirinya.

6.Makna Tempat Yang Baik. Tempat yang baik bukan selalu yang paling menjanjikan secara materi. Tetapi, tempat yang menjaga nilai, memberi ketenangan, dan tidak menjauhkan seseorang dari prinsip hidupnya.

7. Relevansi dengan Dunia Kerja. Dalam memilih pekerjaan, seringkali pertimbangan hanya berhenti pada gaji dan posisi. Padahal, ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tempat bekerja dari Allah SWT jauh lebih menentukan arah hidup seseorang.

8.Dari Pekerjaan ke Jabatan. Ketika seseorang berkembang hingga memegang jabatan, ia sebenarnya sedang “ditempatkan” pada posisi tertentu oleh Allah SWT. Bukan sekedar mencapainya dengan usaha pribadi semata.

9. Kesadaran dalam Memegang Amanah. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah bentuk penempatan dari Allah SWT, sehingga harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekedar kebanggaan atau kekuasaan.

10. Reflaktif. Dari kisah Nabi Nuh, kita belajar, bahwa dalam setiap perpindahan, apakah merantau, bekerja, hingga menduduki jabatan, yang paling penting bukan hanya bergerak maju, tetapi memastikan kita berada di tempat yang diberkahi.

Dari doa Nabi Nuh sekaligus Kalam Ilahi QS Al Mu’minun ayat 29, kita belajar bahwa tempat terbaik bukan yang kita pilih, tapi yang Allah tetapkan.

Wallaahu’alam bish showab

Semoga berkenan.
.

*) Chairul Hudaya, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia. Alumni S1 Teknik Elektro Universitas Indonesia. Melanjutkan studi S2 di Seoul National University dan S3 di University of Science & Tecknology, Korea Selatan. Pernah dipercaya sebagai Rektor Universitas Teknologi Sumbawa, NTB.

Silahkan share jika bermanfaat!

Followership Bernilai Ibadah

Kepemimpinan adalah peran yang dijalankan oleh seseorang yang diberikan kepercayaan oleh pengikutnya guna memikul tanggung jawab sebagai perwakilan organisasi. Seorang leader umumnya berasal dari pengikut. Leader tanpa follower, tak akan ada. Pemimpin tanpa pengikut, bukan pemimpin sebenarnya. Sehingga, pemimpin dengan pengikut tak dapat dipisahkan. Satu paket lengkap.

Follower wajib taat kepada pemimpinnya selama bukan dalam kemaksiatan. Dalam agama Islam, ada pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad:

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci, kecuali jika ia disuruh berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”

Follower ini bukan sembarang pengikut. Pengikut yang dapat membawa manfaat. Alm. Dr. Handry Satriago, CEO GE Indonesia 2011-2023, dalam disertasinya : Examining The Followers’ Influence on Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect, menyatakan bahwa:

“Peranan dan kemampuan pengikut atau bawahan atau follower secara aktif memengaruhi dan berdampak positif pada kinerja pimpinan (leader) dan keberhasilan organisasi. Di samping itu, persepsi, keyakinan, dan perilaku kritis pengikut atau follower terhadap pemimpinnya atau leader secara positif berhubungan dengan tingkat kinerja pemimpin tersebut.

Contoh sehari-hari followership ini adalah pelaksanaan sholat berjamaah. Makmum tidak pernah mempertanyakan siapa imamnya. Ia berbaris berderet dan berbaris rapi ketika iqamah dikumandangkan. Makmum sholat berjamaah, tunduk/mengikuti (mutaba’ah) kepada imam.

Ada lagi yang fenomenal. Masih ingat kisah Khalid bin Walid, Panglima Perang yang Ahli Strategi dan Pemberani. Ia memenangkan setiap pertempuran yang dipimpinnya. Beliau mendadak diganti oleh Umar bin Khattab RA. Apa reaksinya?

“Demi Allah, jika Kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat keislamanmu jauh lebih baik daripada aku. Dan kamu telah dijuluki sebagai “Yang dipercaya oleh Nabi”? Aku tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi”

Itu jawaban spontan dan lugas Khalid bin Walid. Beliau mengeluarkan pernyataan untuk Umar bin Khattab RA, dihadapan Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya. Sesaat setelah beliau dibebastugaskan oleh Umar bin Khatab RA.

Apa yang terjadi setelah itu? Apa beliau berkemas lalu pulang? Muthung? Tidak! Sama sekali tidak! Beliau, masya Allah, tetap berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi followernya Abu Ubaidah.

Terlihat jelas bahwa pengikut yang baik dan setia adalah mitra kritis. Bagaimana menjadi mitra kritis itu ?

  1. Kritis dan  memiliki pendirian. Mau dan mampu menelaah, bahkan memberikan pendapat bertolak belakang sekali pun. Namun, tetap berpegang teguh pada value, dalam hal ini Al Qur;an dan Hadits.  Bukan, sekedar ‘yes man‘.
  2. Aktif berinteraksi. Berdiskusi dan bahkan berani berdebat berdasarkan data dengan pemimpin.
  3. Memberikan ide dan nilai. Memberikan masukan yang konstruktif dan juga nilai yang dipahami bersama. Bahkan jika itu bertentangan dengan ide pemimpin.

Terus apa manfaat menjadi pengikut setia alias mitra kritis? Tentu saja organisasi menjadi kuat dan berkembang. Kok bisa? Iya, karena good follower akan menciptakan pemimpin yang efektif. Timbul rasa saling menghargai dan percaya. Respect dan trust ini adalah modal utama menjadikan organisasi yang kuat dan berkembang. Mari menelisik firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 59 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Muhammad, dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dan juga sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

“Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka terhadapku maka ia telah durhaka terhadap Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin (amir), maka ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka terhadap pemimpin maka ia telah durhaka kepadaku.”

So, menjadi follower yang baik bisa menjadikan organisasi maju dan berkembang. Tentunya, hal yang baik itu akan menjadi tambahan catatan amal kebaikan kita. Followership pun bisa bernilai ibadah.

Wallaahu a’lam bishawab.

Silahkan share jika bermanfaat!

Beras Jatah dan Harapan

Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, masih banyak pemandangan seorang pegawai negeri sipil dan/atau anggota TNI/Polri membawa beras jatah pada akhir bulan. Tak terkecuali dosen. Ada yang beras jatahnya dijual. Uang hasil penjualan menjadi penghasilan tambahan. Beberapa, dibelikan beras dengan varietas yang lain. Pembelinya bisa koperasi atau toko mracang di pasar.

Pemandangan itu membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik punya ide. Beberapa dosen mendapatkan beras bulanan melalui koperasi. Kami melakukan komunikasi dan memperoleh kesepakatan harga. Sehingga dalam 1 tahun, akan mendapatkan dana yang tetap. Ada tambahan layanan, uang tunai diurus dan diantar langsung. Sehingga tidak perlu repot ulang alik ke koperasi. Margin yang fixed adalah sepuluh rupiah per kilogram. Ya, Rp. 10,-/Kg. Sebagai gambaran uang kuliah saat itu Rp. 120.000,- per semester.

Dana itu kami kelola. Setiap awal bulan, kami bergiliran ke koperasi. Uang tunai hasil penjualan diambilkan lantas diantarkan kepada masing-masing dosen menggunakan amplop coklat. Kadang titip juga ke Pegawai Tata Usaha, jika tidak ketemu dosen yang dituju. Zaman itu belum banyak transaksi menggunakan transfer atau sejenisnya. Masih jadul. Cash keras.

Lha . . terus kemana larinya uang lebih tadi? Anak-anak muda tadi membuat Yayasan. Namanya Yayasan Persaudaraan. Kegiatannya fokus : pengumpulan/penjualan beras jatah dan membantu siswa/mahasiswa yang membutuhkan dukungan dana.

Sumber dananya dari dana ‘keuntungan’  pengelolaan beras jatah. membiayai mahasiswa dan siswa SMA/SMK yang berotak cemerlang, namun kurang beruntung secara ekonomi. Punya potensi putus sekolah. Dana itu setiap awal bulan, diantar ke rumah siswa. Sekalian bertemu siswanya dan juga orang tuanya. Seleksinya pun sederahana, getok tular alias dari mulut ke mulut. Di tambah kesaksian para pengusul.

Beberapa dosen suatu saat, ada yang tahu cerita kemana larinya uang beras jatah itu. Ketika mereka tahu bahwa untuk bea siswa. Mereka marah.

Lho, koen iku kok nggak kondo-kondo, lek ojir e di gawe mbiayai arek sekolah. Ngerti ngono aku nggak gelem nerimo ojir tekan dodolan beras jatahku“, begitu ujar salah satu dosen. (Terjemahan bebasnya: Kenapa kamu tidak cerita, jika dana itu digunakan untuk bea siswa. Kalau tahu seperti itu, saya tidak mau menerima uang hasil penjualan beras jatah).

Pertemuan atau lebih tepatnya pemanggilan itu, menjadi awal. Kekagetan menular. Beliau para dosen, ingin turut berbagi. Alhamdulillaah.

Walhasil, dosen yang tahu kegiatan kami, justru memberikan semua hasil penjualan beras jatahnya. Tidak mau lagi menerima amplop coklat kami. Kami pun kewalahan, dana tambah banyak. Positifnya, penyaluran ditambah, terutama usulan siswa yang pernah ditunda, karena kekurangan dana.

Pengurus Yayasan Persaudaraan pun silih berganti. Ketika pengurus akan lulus, kami mencari mahasiswa penerima estafet pengelolaan. Hand over, bagaimana tata kelola mengurus perputaran beras jatah, kemana penyalurannya hasil penjualan. Plus ada laporan keuangannya. Hampir dipastikan saldonya nol  setiap akhir bulan. Jika ada tambahan pemasukan, maka mencari lagi siswa/mahasiswa yang membutuhkan.

Pengurus terakhir yang saya ingat adalah seorang mahasiswi yang saat ini menjadi petinggi salah satu perusahaan multi nasional industri pengolahan susu. Sayangnya, setelah itu tidak terlacak. Apa pun itu, semoga menjadi amal kebaikan bapak/ibu dosen dan juga para pengurus.

Beras jatah itu telah banyak memberikan harapan baru.

Silahkan share jika bermanfaat!

Pencuri Pahala Puasa

Pencuri Pahala Puasa

by: Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak *)
(Resume dari Pengajian Rutin Sabtu Pagi, Alumni STAN 87, 14 Februari 2026)

Setiap tahun kita berpuasa. Lapar kita rasakan, haus kita tahan. Waktu terasa lebih panjang, tenaga lebih berkurang. Namun Rasulullah SAW pernah mengingatkan dengan kalimat yang mengguncang jiwa:

 “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ia seperti cermin. Jangan-jangan kita termasuk di dalamnya.

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Jika hanya itu, maka semua orang bisa melakukannya. Puasa adalah latihan menahan diri secara total — menahan lisan, menahan emosi, menahan pandangan, bahkan menahan keluhan hati.

Banyak pahala puasa hilang bukan karena kita makan diam-diam, tetapi karena lisan yang tidak dijaga. Ghibah terasa ringan. Dusta dianggap sepele. Keluhan keluar tanpa rasa syukur. Kata-kata menyakitkan terlontar tanpa pikir panjang. Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Seakan-akan Allah menegaskan: Aku tidak butuh laparmu jika akhlakmu tidak berubah.

Di zaman ini, pencuri pahala tidak hanya di ujung lidah. Ia ada di ujung jari. Jari yang menulis komentar kasar. Jari yang menyebarkan berita tanpa tabayyun. Mata yang bebas melihat apa saja tanpa kontrol. HP yang seharusnya alat dakwah berubah menjadi pintu dosa.

Kita bisa saja berpuasa sepanjang hari, tetapi jika waktu kita habis untuk scroll tanpa manfaat, untuk debat tanpa adab, untuk melihat yang tidak halal — maka ruh puasa itu pelan-pelan menguap.

Pencuri lain yang paling cepat merusak adalah emosi. Mudah marah. Gampang tersinggung. Cepat membalas dengan kata-kata keras. Padahal puasa adalah sekolah kesabaran. Nabi Muhammad SAW mengajarkan agar orang yang diganggu saat berpuasa berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu pengingat diri bahwa kita sedang melatih jiwa.

Ada pula pencuri yang lebih halus: malas ibadah. Al-Qur’an jarang dibuka. Sedekah tidak bertambah. Berbuka tanpa rasa syukur. Shalat tetap, tetapi tidak meningkat. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih dekat kepada Allah, maka apa yang sedang kita kejar?

Puasa seharusnya menaikkan derajat takwa. Ia bukan agenda tahunan, tetapi proses pembentukan jiwa. Puasa mengajarkan kita bahwa yang halal saja bisa kita tinggalkan karena Allah, apalagi yang haram.

Karena itu, menjaga pahala puasa harus dilakukan dengan sadar. Niat diperbarui setiap hari. Lisan dijaga seketat mungkin. Emosi ditahan sebelum meledak. HP dibatasi sebelum melalaikan. Sedekah dibiasakan walau kecil. Al-Qur’an didekati walau sedikit.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar hingga maghrib. Ia tentang menjaga hati tetap hidup hingga akhir Ramadhan.

Jangan sampai kita pulang dari bulan suci ini hanya membawa haus dan lapar. Pulanglah dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjaga puasa kita dari pencuri-pencuri yang halus itu. Aamiin.

.

*) Dr. Syamsudin, Ak., M.Ak. adalah seorang dosen di bidang Akuntansi dan Internal Audit. Ia pernah diberi amanah menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid. Aktivitas lainnya adalah penggerak dan pelaku kegiatan sosial. Ia juga dikenal sebagai orang yang banyak ide inovasi yang solituf untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Silahkan share jika bermanfaat!

Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Silahkan share jika bermanfaat!

Ownership, Mengapa Itu Penting?

Tim pasti gabungan dari beberapa individu. Tiap anggota tim punya ketrampilan masing-masing. Leader harus mampu mengelolanya. Itulah seninya. Leader setelah tahu peta individu anggota timnya, ia bisa melakukan pendelegasian. Memberi kesempatan mengambil alih. Menciptakan tujuan bersama untuk mengembangkan keahlian dan kemajuan profesional individu/ Tentu saja nantinya yang juga berkontribusi terhadap pencapaian tim secara keseluruhan.

Mari ingatan kita putar beberapa tahun lalu. Banyak pelajaran dari kisah pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim sepakbola adalah gambaran tim yang efektif. Pemain pilihan didukung oleh tim yang multi talenta. Ada coach sebagai leader. Ada manajer tim yang mengurusi bagian umum. Tenaga medis juga ada. Melibatkan tenaga pengambil dan pengolah data. Satu sama lain saling melengkapi. Terlebih pada diri pemain. Ada yang spesialis juru gedor. Pengatur serangan. Pemain depan yang haus gol. Back yang bak tembok tapi lincah. Penjaga gawang yang refleknya ciamik, dan lain-lain.

Ketika itu ada tim yang mencatat sejarah. Tim Kroasia. Tapi siapa sangka, dinamika penuh drama bagaimana mengelola tim beranggotakan pemain hebat pada posisi dan punya nama besar.

Iya. Tim ini pernah memulangkan Nicola Kalinic, sang bomber AC Milan. Penyerang langgan timnas Kroasia sejak usia dini. Ia dipulangkan oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Apa pasal?  Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan menolak diturunkan ke lapangan sebagai pemain pengganti pada menit ke- 85. Injury time. Kala itu, Kroasia melawan Nigeria pada pertandingan fase grup. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangkucadangkan. Harusnya ia menjadi starter. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu. Ia lupa, bahwa ia bagian dari tim. Rasa kepemilikannya memudar, karena ia menganggap dirinya hebat. Ownershipnya luntur.

Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Pelatih menyerahkan tiket pesawat pulang ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan. Diminta angkat koper. Deretan penyerang berkurang 1 orang. Tentu ini memberatkan tim, rotasi pemain menjadi masalah. Apalagi Kroasia ketika itu sering bermain dengan perpanjangan waktu. Pergantian pemain adalah penyegaran.

Saat dipulangkan, bukannya menyesal. Kalinic nampak tak peduli bahkan cenderung bangga. Ia kedapatan mengunggah foto-fotonya di media sosial, saat sedang berwisata. Ia nampak ingin bilang, tanpa dirinya, tim Kroasia akan seperti macan ompong. Tidak bisa berbuat banyak. Keok. Tak bakal melaju ke babak knock-out.

Tapi apa yang terjadi? Tim Kroasia berhasil melewati babak awal. Tim yang memeproleh nilai sempurna, 9 dari 3 pertandingan. Mereka maju ke babak 16 besar. Dan terus melangkah maju bahkan hingga babak final.

Meski akhirnya harus puas dengan medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Permainan Kroasia di babak final ciamik. Meski kalah, kalah terhormat. Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak. Jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan Tim Kroasia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Trust and Respect

Trust dan respect itu apa sih? Apa hubungannya dengan leadership.

Trust atau kepercayaan adalah keyakinan positif yang dimiliki oleh bawahan bahwa seorang pemimpin memiliki niat baik dan kemampuan untuk bertindak demi kepentingan terbaik tim dan organisasi.

Analogi yang relatif mudah untuk menerangkan apa itu kepercayaan adalah anak kecil/bayi yang diajak senda gurau oleh ayahnya. Ayahnya melempar bayi atau anak kecil itu ke udara. Si bayi malah tertawa lepas. Ia bahagia. Senang, malah ketagihan. Kenapa kok ia tidak nangis atau teriak ? Karena si bayi tahu, bahwa ia akan ditangkap kembali oleh bapaknya. Bapaknya sedang mengajak bercanda. Bukan dilempar terus ditinggal. Atau ia sedang dibuang, dilempar dalam arti sebenarnya.

Sedangkan respect atau rasa hormat adalah pengakuan dan penghargaan yang timbal balik. Pemimpin kepada anggota timnya. Pun pengakuan dan penghargaan yang diterima pemimpin dari followernya, atas nilai intrinsik/sebenarnya, kontribusi, dan keberadaan mereka sebagai individu.

Kisah panglima perang tersohor ini dapat dijadikan bahan pelajaran. Siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Ia tak pernah kalah jika ia diberikan kepercayaan memimpin sebuah pasukan tempur. Namun, suatu saat ia diganti mendadak oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia direshuffle saat sedang memimpin pasukan pula. Semua orang khawatir, akan terjadi perlawanan, perpecahan, bahkan pasukan kocar-kacir dan kalah perang. Tapi apa yang diucapkan dan dilakukannya di luar dugaan. Ia berkata:

“Demi Allah, jika kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat ke-Islamanmu jauh lebih daripada aku dan kamu telah dijuluki sebagai orang yang dipercaya oleh Nabi? Aku pun tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi.”

Beliau mengeluarkan pernyataan itu ditujukan kepada Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi. Ia mengucapkan saat Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya, ada didepannya juga. Ia ucapkan sesaat setelah beliau menerima surat bebas tugas. Dan, hebatnya lagi, Khalid bin Walid bukannya memacu kudanya pulang. Beliau tetap ikut berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi anggota pasukan. Ia menerima perintah dan komando Abu Ubaidah. Pertempuran itu pun dimenangkan oleh Pasukan Abu Ubaidah.

Akhlak yang patut diteladani, apalagi ketika pada posisi menjadi pemimpin. Bahkan sedang tersohor pula. Ia menaruh rasa hormat sekaligus percaya kepada pimpinannya. Ia percaya hari ini pemimpin, suatu saat bisa menjadi anggota tim. Sebaliknya yang saat ini menjadi followernya, suatu saat menjadi leader. Khalid bin Walid trust & respect kepada Umar bin Khattab, pun juga kepada Abu Ubaidah. Ia membuktikan sebagai effective leader.

Trust dan respect, dua pilar fundamental yang mutlak diperlukan dalam kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan. Keduanya saling terkait erat dan menjadi perekat yang mengikat pemimpin dengan pengikut. Dua hal itu sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya sendiri.

Walk the talk.

Silahkan share jika bermanfaat!