Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, masih banyak pemandangan seorang pegawai negeri sipil dan/atau anggota TNI/Polri membawa beras jatah pada akhir bulan. Tak terkecuali dosen. Ada yang beras jatahnya dijual. Uang hasil penjualan menjadi penghasilan tambahan. Beberapa, dibelikan beras dengan varietas yang lain. Pembelinya bisa koperasi atau toko mracang di pasar.
Pemandangan itu membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik punya ide. Beberapa dosen mendapatkan beras bulanan melalui koperasi. Kami melakukan komunikasi dan memperoleh kesepakatan harga. Sehingga dalam 1 tahun, akan mendapatkan dana yang tetap. Ada tambahan layanan, uang tunai diurus dan diantar langsung. Sehingga tidak perlu repot ulang alik ke koperasi. Margin yang fixed adalah sepuluh rupiah per kilogram. Ya, Rp. 10,-/Kg. Sebagai gambaran uang kuliah saat itu Rp. 120.000,- per semester.
Dana itu kami kelola. Setiap awal bulan, kami bergiliran ke koperasi. Uang tunai hasil penjualan diambilkan lantas diantarkan kepada masing-masing dosen menggunakan amplop coklat. Kadang titip juga ke Pegawai Tata Usaha, jika tidak ketemu dosen yang dituju. Zaman itu belum banyak transaksi menggunakan transfer atau sejenisnya. Masih jadul. Cash keras.
Lha . . terus kemana larinya uang lebih tadi? Anak-anak muda tadi membuat Yayasan. Namanya Yayasan Persaudaraan. Kegiatannya fokus : pengumpulan/penjualan beras jatah dan membantu siswa/mahasiswa yang membutuhkan dukungan dana.
Sumber dananya dari dana ‘keuntungan’ pengelolaan beras jatah. membiayai mahasiswa dan siswa SMA/SMK yang berotak cemerlang, namun kurang beruntung secara ekonomi. Punya potensi putus sekolah. Dana itu setiap awal bulan, diantar ke rumah siswa. Sekalian bertemu siswanya dan juga orang tuanya. Seleksinya pun sederahana, getok tular alias dari mulut ke mulut. Di tambah kesaksian para pengusul.
Beberapa dosen suatu saat, ada yang tahu cerita kemana larinya uang beras jatah itu. Ketika mereka tahu bahwa untuk bea siswa. Mereka marah.
“Lho, koen iku kok nggak kondo-kondo, lek ojir e di gawe mbiayai arek sekolah. Ngerti ngono aku nggak gelem nerimo ojir tekan dodolan beras jatahku“, begitu ujar salah satu dosen. (Terjemahan bebasnya: Kenapa kamu tidak cerita, jika dana itu digunakan untuk bea siswa. Kalau tahu seperti itu, saya tidak mau menerima uang hasil penjualan beras jatah).
Pertemuan atau lebih tepatnya pemanggilan itu, menjadi awal. Kekagetan menular. Beliau para dosen, ingin turut berbagi. Alhamdulillaah.
Walhasil, dosen yang tahu kegiatan kami, justru memberikan semua hasil penjualan beras jatahnya. Tidak mau lagi menerima amplop coklat kami. Kami pun kewalahan, dana tambah banyak. Positifnya, penyaluran ditambah, terutama usulan siswa yang pernah ditunda, karena kekurangan dana.
Pengurus Yayasan Persaudaraan pun silih berganti. Ketika pengurus akan lulus, kami mencari mahasiswa penerima estafet pengelolaan. Hand over, bagaimana tata kelola mengurus perputaran beras jatah, kemana penyalurannya hasil penjualan. Plus ada laporan keuangannya. Hampir dipastikan saldonya nol setiap akhir bulan. Jika ada tambahan pemasukan, maka mencari lagi siswa/mahasiswa yang membutuhkan.
Pengurus terakhir yang saya ingat adalah seorang mahasiswi yang saat ini menjadi petinggi salah satu perusahaan multi nasional industri pengolahan susu. Sayangnya, setelah itu tidak terlacak. Apa pun itu, semoga menjadi amal kebaikan bapak/ibu dosen dan juga para pengurus.
Beras jatah itu telah banyak memberikan harapan baru.