Hidup & Nasib : Realita yang Terlalu Kita Seriusi

HIDUP & NASIB: REALITA YANG TERLALU KITA SERIUSI

by : Dyah Juniati *)

Kita ini sering sibuk bilang: “Ini salah, itu salah, seharusnya begini, yang itu seharusnya begitu”.

Seolah hidup punya buku manual dan kita cuma tinggal mengikuti petunjuknya. Padahal pertanyaan paling sederhana yang jarang ditanyakan adalah “sopo sing mengharuskan?”

Siapa yang bilang hidup itu harus adil, harus masuk akal, harus sesuai logika kita?

Padahal hidup itu pada dasarnya yaa liar. Kadang indah, kadang kejam, sedih, happy.. sering kali acak.

Kita berjalan di antara pilihan dan kebetulan, antara usaha dan takdir. Kadang harapan terpenuhi, kadang ngaplo..

Setiap langkah terasa seperti hasil keputusan pribadi, ikut formula, tapi di saat yang sama dibentuk oleh hal-hal yang tidak pernah kita pilih: misal lahir di keluarga apa, gen seperti apa, budaya seperti apa, kondisi ekonomi seperti apa, tiba2 saja kita lahir mak bedunduk (baca: tiba-tiba) di bumi ini.

Di titik ini, “nasib” bukan konsep mistis, tapi gabungan antara struktur biologis, sosial dan hukum alam.

Masalahnya, kita sering terjebak di epistemologi: kita sibuk menilai, menghakimi, mencari makna, mencari siapa yang salah dan siapa yang benar.

Kita ingin hidup bisa dijelaskan dulu sebelum bisa diterima.
Kita ingin nasib bisa dirasionalisasi dulu sebelum bisa berdamai.

(Jare sopoooo…iku lak jaremuuu..begitu kata Kartolo, salah satu tokoh seni di Surabaya).

Ternyata realitas tidak pernah menunggu persetujuan kita. Ia tetap berjalan, mau kita paham atau tidak.

Kita semakin bingung lagi karena kupasan-kupasan di sekeliling kita simpang siur tumpang tindah, bertarung dalam debat yang tak kunjung titik.

Agama misalnya, memberi kerangka makna agar hidup tidak terasa terlalu absurd.

Sedangkan filsafat mencoba merapikan kekacauan itu dengan konsep.

Sains membongkar lapis demi lapis: genetika menentukan potensi, hormon memengaruhi emosi, otak membuat keputusan sebelum kita sadar, struktur sosial menentukan peluang bahkan sebelum kita lahir.

Semua itu membuat satu hal makin jelas bahwa kebebasan kita ini sepertinya nyata, tapi sangat terbatas; kendali kita ada, tapi tidak pernah penuh.

Mungkin kita perlu menggeser cara berpikir. Dari epistemologi ke ontologi. Dari sibuk bertanya “apa maknanya?” menjadi “apa yang sebenarnya terjadi?”.

Dari “seharusnya hidup begini” menjadi “nyatanya hidup adalah begini”.

Bukan berarti berhenti berpikir, tapi berhenti memaksa realitas agar sesuai dengan harapan pikiran kita.

Nasib, kalau dilihat secara ontologis, bukan hukuman, bukan hadiah, bukan teka-teki kosmik. Ia hanyalah hasil pertemuan antara faktor-faktor yang tidak kita pilih dan respons yang sebisanya kita lakukan. Tidak adil, tidak rapi, tidak konsisten, tapi NYATA.

Mungkin hidup memang bukan soal menemukan jawaban paling benar. Tapi cuma soal belajar hadir di dalam realita yang tidak pernah kita desain sendiri, sambil tetap berusaha, tetap sadar dan menerima bahwa sebagian besar hal penting dalam hidup tidak pernah tunduk pada logika “seharusnya”.

Spill obrolan santai bareng dr. Ryu Hasan Roslan Yusni Hasan. Huggs Kafe, medical centre NUH, 27 Januari 2026.

*) Dyah Juniati, Alumni Bhawikarsu/SMA 3 Malang, Alumni TAUB 1989. Garwa (baca: sigarane nyawa) alias istri dari Charis Soeharto, diaspora Indonesia yang berkarya di perusahaan jasa energi di Singapura.

Silahkan share jika bermanfaat!

Ownership, Mengapa Itu Penting?

Tim pasti gabungan dari beberapa individu. Tiap anggota tim punya ketrampilan masing-masing. Leader harus mampu mengelolanya. Itulah seninya. Leader setelah tahu peta individu anggota timnya, ia bisa melakukan pendelegasian. Memberi kesempatan mengambil alih. Menciptakan tujuan bersama untuk mengembangkan keahlian dan kemajuan profesional individu/ Tentu saja nantinya yang juga berkontribusi terhadap pencapaian tim secara keseluruhan.

Mari ingatan kita putar beberapa tahun lalu. Banyak pelajaran dari kisah pada perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Tim sepakbola adalah gambaran tim yang efektif. Pemain pilihan didukung oleh tim yang multi talenta. Ada coach sebagai leader. Ada manajer tim yang mengurusi bagian umum. Tenaga medis juga ada. Melibatkan tenaga pengambil dan pengolah data. Satu sama lain saling melengkapi. Terlebih pada diri pemain. Ada yang spesialis juru gedor. Pengatur serangan. Pemain depan yang haus gol. Back yang bak tembok tapi lincah. Penjaga gawang yang refleknya ciamik, dan lain-lain.

Ketika itu ada tim yang mencatat sejarah. Tim Kroasia. Tapi siapa sangka, dinamika penuh drama bagaimana mengelola tim beranggotakan pemain hebat pada posisi dan punya nama besar.

Iya. Tim ini pernah memulangkan Nicola Kalinic, sang bomber AC Milan. Penyerang langgan timnas Kroasia sejak usia dini. Ia dipulangkan oleh sang pelatih, Zlatko Dalic. Apa pasal?  Kalinic, yang merupakan salah satu pemain AC Milan menolak diturunkan ke lapangan sebagai pemain pengganti pada menit ke- 85. Injury time. Kala itu, Kroasia melawan Nigeria pada pertandingan fase grup. Ia merasa menjadi pemain kunci, pemain hebat, tidak layak dibangkucadangkan. Harusnya ia menjadi starter. Ia protes dengan cara menolak permintaan sang pelatih. Usai pertandingan pun ia enggan meminta maaf kepada pelatih dan tim atas kesombongannya itu. Ia lupa, bahwa ia bagian dari tim. Rasa kepemilikannya memudar, karena ia menganggap dirinya hebat. Ownershipnya luntur.

Keesokan paginya, sang pelatih mengambil tindakan tegas. Pelatih menyerahkan tiket pesawat pulang ke Kroasia kepada Kalinic. Pemain ini dipulangkan. Diminta angkat koper. Deretan penyerang berkurang 1 orang. Tentu ini memberatkan tim, rotasi pemain menjadi masalah. Apalagi Kroasia ketika itu sering bermain dengan perpanjangan waktu. Pergantian pemain adalah penyegaran.

Saat dipulangkan, bukannya menyesal. Kalinic nampak tak peduli bahkan cenderung bangga. Ia kedapatan mengunggah foto-fotonya di media sosial, saat sedang berwisata. Ia nampak ingin bilang, tanpa dirinya, tim Kroasia akan seperti macan ompong. Tidak bisa berbuat banyak. Keok. Tak bakal melaju ke babak knock-out.

Tapi apa yang terjadi? Tim Kroasia berhasil melewati babak awal. Tim yang memeproleh nilai sempurna, 9 dari 3 pertandingan. Mereka maju ke babak 16 besar. Dan terus melangkah maju bahkan hingga babak final.

Meski akhirnya harus puas dengan medali perak, tetapi itu adalah prestasi yang luar biasa. Permainan Kroasia di babak final ciamik. Meski kalah, kalah terhormat. Dengan kepala tegak tim Kroasia menerima medali perak. Jutaan pasang mata melihat daya juang, energi dan kesungguhan Tim Kroasia.

Silahkan share jika bermanfaat!

Trust and Respect

Trust dan respect itu apa sih? Apa hubungannya dengan leadership.

Trust atau kepercayaan adalah keyakinan positif yang dimiliki oleh bawahan bahwa seorang pemimpin memiliki niat baik dan kemampuan untuk bertindak demi kepentingan terbaik tim dan organisasi.

Analogi yang relatif mudah untuk menerangkan apa itu kepercayaan adalah anak kecil/bayi yang diajak senda gurau oleh ayahnya. Ayahnya melempar bayi atau anak kecil itu ke udara. Si bayi malah tertawa lepas. Ia bahagia. Senang, malah ketagihan. Kenapa kok ia tidak nangis atau teriak ? Karena si bayi tahu, bahwa ia akan ditangkap kembali oleh bapaknya. Bapaknya sedang mengajak bercanda. Bukan dilempar terus ditinggal. Atau ia sedang dibuang, dilempar dalam arti sebenarnya.

Sedangkan respect atau rasa hormat adalah pengakuan dan penghargaan yang timbal balik. Pemimpin kepada anggota timnya. Pun pengakuan dan penghargaan yang diterima pemimpin dari followernya, atas nilai intrinsik/sebenarnya, kontribusi, dan keberadaan mereka sebagai individu.

Kisah panglima perang tersohor ini dapat dijadikan bahan pelajaran. Siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Ia tak pernah kalah jika ia diberikan kepercayaan memimpin sebuah pasukan tempur. Namun, suatu saat ia diganti mendadak oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia direshuffle saat sedang memimpin pasukan pula. Semua orang khawatir, akan terjadi perlawanan, perpecahan, bahkan pasukan kocar-kacir dan kalah perang. Tapi apa yang diucapkan dan dilakukannya di luar dugaan. Ia berkata:

“Demi Allah, jika kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat ke-Islamanmu jauh lebih daripada aku dan kamu telah dijuluki sebagai orang yang dipercaya oleh Nabi? Aku pun tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi.”

Beliau mengeluarkan pernyataan itu ditujukan kepada Umar bin Khattab, pemimpin tertinggi. Ia mengucapkan saat Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya, ada didepannya juga. Ia ucapkan sesaat setelah beliau menerima surat bebas tugas. Dan, hebatnya lagi, Khalid bin Walid bukannya memacu kudanya pulang. Beliau tetap ikut berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi anggota pasukan. Ia menerima perintah dan komando Abu Ubaidah. Pertempuran itu pun dimenangkan oleh Pasukan Abu Ubaidah.

Akhlak yang patut diteladani, apalagi ketika pada posisi menjadi pemimpin. Bahkan sedang tersohor pula. Ia menaruh rasa hormat sekaligus percaya kepada pimpinannya. Ia percaya hari ini pemimpin, suatu saat bisa menjadi anggota tim. Sebaliknya yang saat ini menjadi followernya, suatu saat menjadi leader. Khalid bin Walid trust & respect kepada Umar bin Khattab, pun juga kepada Abu Ubaidah. Ia membuktikan sebagai effective leader.

Trust dan respect, dua pilar fundamental yang mutlak diperlukan dalam kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan. Keduanya saling terkait erat dan menjadi perekat yang mengikat pemimpin dengan pengikut. Dua hal itu sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya sendiri.

Walk the talk.

Silahkan share jika bermanfaat!

Leader and Direction

Sebuah tim harus ada pemimpin. Jika tidak, tim bisa berantakan. Leader menetapkan tujuan dan mengarahkan tim dengan tepat. John F. Kennedy, Presiden ke-35 AS, atau lebih dikenal dengan JFK pernah menyatakan :

“Effort and courage are not enough without purpose and direction.”

Benar adanya, untuk mencapai kesuksesan, usaha dan keberanian saja tidak cukup. Ia harus mempunyai target, tujuan yang bakal dicapai. Pun perlu arahan yang tepat. Ini memberikan gambaran, bahwa menjalankan sesuatu perlu tim. Ada leader dan ada follower. Harus bahu membahu, bukan semuanya ingin bertindak sebagai pemimpin, punya ijtihad atau justifikasi sendiri. Anggotanya juga mau dan mampu mengikuti arahan pemimpin. Itulah tim yang efektif.

Guna mencapai tim yang efektif  perlu pedoman arah alias kompas. Kompas menurut KBBI adalah pedoman arah. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara. North.

Tina Benson, Managing Director of Team Tactics Ia juga kontributor Chartered Management Institute, UK mengemukakan bagaimana leader membangun tim efektif yang bisa mempertahankan bisnis. Bahkan mampu memenangkan persaingan. Leader perlu fokus  hanya pada tiga hal:

“Leadership, Ownership, and Relationship.”

Leadership, ownership dan Relationship jika disingkat menjadi LOR. Lor adalah bahasa Jawa yang punya arti Utara. Gothak gathuk matuk.

Leadership

Mengelola tim yang efektif berarti menjadi pemimpin yang efektif. Memimpin dari depan dengan memberikan contoh. Ing ngarso sung tulodho. Ditengah tim ia menyemangati dan mau mendengar. Ing madyo mangun karso. Ia juga mampu memberi dorongan, pun memberi peluang pelaksanaan ide anggota tim. Tut wuri handayani.

Ownership

Rasa kepemilikan tugas pada semua tingkatan mengambil peran sangat penting untuk mencapai kesuksesan. Leader harus tahu, bahwa ia tidak hanya berada di garis terdepan, tetapi menjadi tumpuan anggota tim. Ia sepenuhnya siap untuk berbicara kepada mereka saat dibutuhkan. Karena itu salah satu cara untuk menanamkan keyakinan dalam tim. Sama seperti anggota tim harus yakin tentang tujuan proyek dan proses untuk sukses. Sense of belonging.

Relationship

Tim efektif intinya adalah hubungan tim dan bagaimana tim dipersepsikan. Ini adalah hubungan antara leader dengan follower, manajer dengan sstaf. Kualitas hubungan menentukan seberapa mulus proses delegation (pendelegasian) dan transition (transisi) dapat terjadi. Tim harus selalu menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Silahkan share jika bermanfaat!

Sudahkah Kita Bersyukur?

Sudahkah Kita Bersyukur?
oleh : Hibatullah Ramadhana *)
.
Malam itu sudah cukup larut. Suasana perkumpulan mulai kehilangan fokus. Sebagian dari kami saling berbisik pelan dengan teman di samping, berusaha melawan penat dan kantuk yang tumbuh perlahan. Namun di tengah kelelahan itu, Bapak Wakil Rektor II, sekaligus pemateri malam itu, tetap berbicara dengan tenang. Beliau mengingatkan betapa bersyukurnya kami bisa berkuliah di tempat ini, sebuah kampus yang memberi ruang pada mahasiswa untuk dekat dengan Al-Qur’an melalui program tahfidz pekanan. Setiap semester, kami diwajibkan menghafal setengah juz, sehingga kelak setidaknya kami membawa pulang empat hingga lima juz hafalan ketika lulus.

Di sela penyampaiannya, beliau bertanya dengan suara yang lembut.

“Adakah dari antum yang setelah membaca Al-Qur’an lalu hafal, melakukan sujud syukur?”

Ruangan hening. Tidak ada satu pun tangan yang terangkat.
Beliau tersenyum tipis, lalu berkata:

“Ustadz sering melihat orang bermain bola lalu mencetak gol, langsung sujud syukur. Tapi ketika kita diberi nikmat yang jauh lebih besar, kita lupa bersujud untuk berterima kasih kepada Allah.”

Kalimat itu membuat ruangan yang sebelumnya jenuh tiba-tiba berubah menjadi tempat perenungan. Rasanya seperti seseorang menepuk pundakku perlahan, mengingatkan hal yang selama ini tak kusadari. Pertanyaan yang singkat, tetapi maknanya masuk jauh ke dalam hati.

Saat itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah Aku Benar-Benar Bersyukur? Dan jika iya, rasa syukur yang seperti apa?

Syukur ternyata bukan hanya soal mengucap “Alhamdulillah”. Ia juga tentang bagaimana kita memanfaatkan nikmat Allah dengan sebaik-baiknya. Tentang bagaimana kita menjaga amanah waktu, ilmu, kesehatan, dan keimanan. Syukur bukan hanya pada apa yang terlihat. Prestasi, fasilitas, pencapaian. Tapi juga pada nikmat yang tidak tampak. Apa itu? Ketenangan, kesempatan bertobat, kekuatan untuk bertahan, dan hidayah yang Allah jaga di dalam hati.

Terakhir, satu pelajaran berharga yang dapat aku ambil.

Jangan sampai syukur kita pada nikmat-nikmat duniawi yang kasat mata mengalahkan syukur kita pada nikmat Allah yang tak terlihat tetapi jauh lebih berharga. Rumah, jabatan, gaji, atau lainnya. Semua itu mudah membuat kita lupa bahwa ada nikmat lain yang lebih halus tetapi jauh lebih menentukan arah hidup.

Malam itu, pertanyaan sederhana dari seorang guru menyentuh bagian terdalam dalam diriku. Dan sejak itu, aku berusaha belajar bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup. Semoga anda bersama saya. Kita digolongkan sebagai orang yang bersyukur.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Sekretaris Himpunan Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo.

Silahkan share jika bermanfaat!

People and Process

Diskusi dengan orang yang kenyang makan asam garam kehidupan, sangat menyenangkan. Apalagi sembari ngopi. Santai tapi bermakna.

Kala itu topik yang hangat adalah bagaimana menjadikan pabrik lebih efisien dan timnya juga lebih produktif.

Ngopi sore itu, beliau menyimak cerita saya yang diberi amanah memimpin pabrik.

Wis bener iku, fokus o nang pipel karo proses (sudah pas, fokus pada perbaikan orang/sdm dan proses)”, tukasnya senior saya ini dengan cepat dan lugas.

Saya terperangah atas timpalan yang tanpa tedeng aling-aling itu. Saya pun manggut-manggut. Maklum sepanjang hidupnya ia memang berkecimpung di dunia pabrik. Usia yang sudah melewati 60 tahun, beliau belum lepas dari dunia manufaktur. Ia lulusan terbaik pada masanya di Teknik Mesin Universitas Brawijaya. Kangmas satu ini juga pernah mengenyam pendidikan lanjut di negara yang kompetisi sepak bolanya jadi panutan dunia.

“Developing your people”.
Manusia adalah mahluk yang bersumber daya. Mudah beradaptasi. Namun, kompetensinya harus digodok dan diarahkan dengan benar. Acapkali, dihadapkan pada sumber daya yang apa adanya. Situasi ini bukan membuat menyerah. Tapi dicari gapnya, dilatih, dimentoring, dicoaching. Digembleng. Namun, kalau masih ndableg (tidak mau berkembang), terpaksa dicari gantinya. Sehingga, setidaknya SDM yang dimiliki mampu menghasilkan produk bermutu. Memnuhi syarat minimal. Pada perjalanannya, mereka menjadi pendekar pilih tanding. Menjadi aset yang tak tertandingi. Dilirik banyak kompetitor

“The right process will produce the right results.”
 Proses produksi harus sempurna. Bagaimana urutan proses yang benar. Meminimalkan pemborosan atau waste. Mesin produksi dipelihara dan dipastikan kapasitasnya. Dan tentunya tidak henti melakukan inovasi dan perbaikan berkesinambungan. Pada akhirnya produk yang dihasilkan, bermutu tak terkalahkan.

Wejangan yang disampaikan sangat menarik. Ide atau masukan atau wejangan yang besar akan menjadi benar-benar besar dan berdampak, ketika dieksekusi alias dilaksanakan.

Sebelum diskusi semakin berat, saya pun menyeruput kopi sembari menikmati Roti Moho.

Mantap.

Silahkan share jika bermanfaat!

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana
Oleh : Hibatullah Ramadhana *)

Tak terasa, sudah satu tahun saya mengabdi mengajarkan anak-anak mengaji di tempat yang penuh kenangan ini. Satu tahun ini bagi saya merupakan pengalaman yang luar biasa—pengalaman yang sulit dilupakan, yang mengajarkan saya arti keikhlasan, kebahagiaan, dan rasa syukur. Di tempat inilah rasa penat saya selepas kuliah hilang, karena melihat antusiasme anak-anak dalam belajar mengaji. Di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi, terutama gadget, anak-anak ini tetap antusias belajar mengaji. Mereka tidak terlalu terpapar oleh pengaruh gadget. Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain sepeda bersama, berolahraga, dan mengaji.

Kehadiran anak-anak ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada hal besar. Anak-anak di sini tidak terlalu bermuluk-muluk untuk meraih kebahagiaan. Mereka hanya memanfaatkan waktu yang ada dan bermain bersama teman-teman. Bahagia yang mereka kejar bukan kemenangan dalam memainkan game di gadget, bukan juga karena naik peringkat dalam sebuah permainan, melainkan dengan kebersamaan dan kreativitas, mereka dapat menciptakan kebahagiaan mereka sendiri—kebahagiaan yang menurut saya sulit ditemukan di zaman sekarang. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang nyata, bukan hanya fantasi belaka.

Kebahagiaan anak-anak ini pun membuat saya merenung tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Tanpa kita sadari, mereka sudah menciptakan kebahagiaan yang begitu seimbang, antara kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Kebahagiaan di dunia mereka dapat dalam permainan bersama teman, dan kebahagiaan di akhirat mereka dapat dalam belajar mengaji di TPA. Sederhana sekali bukan konsep kebahagiaan mereka? Sederhana, namun sesuai dengan konsep kebahagiaan menurut Islam. Konsep kebahagiaan yang seimbang antara dunia dan akhirat—kebahagiaan yang tidak sesaat, tetapi juga menciptakan rasa tenang dalam jiwa.

Salah satu bentuk kebahagiaan sederhana itu kami alami dalam sebuah kegiatan bersama. Suatu hari, kami mengadakan acara jalan sehat bersama. Kami berjalan mengelilingi daerah sekitar TPA, yang memang dekat dengan persawahan dan perbukitan. Pemandangannya tampak indah, terutama saat pagi atau sore hari. Acara ini kami kemas dengan sesederhana mungkin, hanya dengan berjalan mengelilingi sawah dan permainan seru bertema Islami, seperti menempelkan lanjutan ayat pada surat tertentu, tebak nama-nama malaikat dan nabi, serta menyebutkan rukun iman dan rukun Islam. Hadiah yang kami berikan hanyalah medali buatan dari potongan kertas dan kardus yang diikat dengan sehelai tali rafia. Namun anak-anak sangat bahagia ketika memakainya. Mereka tahu bagaimana cara menghormati pemberian orang lain.

Pengalaman itu membuat saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya soal mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi bagaimana kita bersyukur dan memanfaatkan apa yang sudah kita miliki. Anak-anak ini mengingatkan saya bagaimana cara bahagia dan cara bersyukur yang sesungguhnya, mengingatkan saya betapa terlenanya saya dengan apa yang telah saya miliki saat ini.

Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun dalam maknanya—bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar, melainkan dari ketulusan, kebersamaan, dan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Anak-anak itu telah mengajarkan saya makna hidup yang tidak saya temukan di ruang kelas manapun. Mereka adalah guru-guru kecil yang tanpa sadar membimbing saya untuk kembali pada hakikat hidup yang lebih jernih dan damai. Mereka mengingatkan saya bahwa dalam hidup ini, bahagia itu memang sederhana, asal kita tahu di mana harus mencarinya.
.
.
*) Hibatullah Ramadhana adalah Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Darussalam (UNIDA), Ponorogo. Sekretaris Himpunan Mahasiswa Prodi Manajemen UNIDA 2025-2026.

Silahkan share jika bermanfaat!