Wayfinding Engineering

Terus terang saya baru mendengar dan tahu apa itu wayfinding engineering, ketika diterangkan salah satu sahabat yang telah lama bermukim di negeri seberang. Ia menanggapi pujian saya atas kemudahan mencari tempat di bandara tempat ia bermukim. Banyak penunjuk arah. Beberapa alat bantu disediakan di beberapa area. Sehingga memudahkan mencari tempat/area, bahkan bagi orang yang pertama kali menginjakkan kaki di bandara tersebut. Kecil kemungkinan tersesat.

Wayfinding Engineering dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Rekayasa Sistem Penunjuk Arah atau Teknik Pemanduan Arah.Secara sederhana, WE adalah kombinasi dari ilmu keteknikan/rekayasa berupa tata letak, jalur, aksesibilitas. Plus desain visual berupa tanda arah, rambu/signage, warna, simbol. Dan juga, psikologi perilaku manusia yang di dalamnya mememberi kemudahan, bagaimana orang berpikir dan mengambil keputusan saat mencari jalan. Dalam 1-2 detik ia bisa memutuskan. Kombinasi itu agar orang tidak tersesat, tidak bingung, dan bergerak efisien.

Ia pun melanjutkan penjelasan. Kali ini membuat saya tambah terkejut. Ternyata salah satu ahli WE ini adalah orang Indonesia. Perempuan muda yang juga adik kelas kami di SMA. Ia salah satu desainer bandara yang dinobatkan terbaik di dunia ini. Anak muda ini juga secara reguler sebagai akademisi di beberapa politeknik. Kami pun segera menjalin kontak.

Rasa penasaran dan rasa ingin tahu lebih jauh ini, tentunya relevan dengan industri layanan jasa yang sedang kami geluti. Bagaimana menambah services yang memudahkan orang lain. Memberi nilai tambah kepada pelanggan.

Semoga dalam waktu dekat, saya dan juga rekan kerja bisa menggali lebih jauh lagi.

 

Silahkan share jika bermanfaat!

Empati dan Rezeki

Karunia terbesar umat manusia adalah diberikan Sang Maha Kuasa memiliki kekuatan empati. Banyak tokoh menyepakati hal tersebut.

Empati itu apa?

Empati adalah kemampuan mental untuk memahami, merasakan, dan berbagi emosi atau perspektif orang lain seolah-olah berada di posisi mereka. Ini adalah kemampuan psikologis untuk memahami dan merasakan emosi orang lain, atau menempatkan diri di posisi mereka.

“Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of another.” (Alfred Adler)

Bagaimana dengan kondisi kekinian dan kedisinian?

Sebuah pasar modern punya lapak di dalam dan ada toko yang menghadap area parkir. Sering mata tertuju pada toko atau outlet itu. Kenapa? Mereka kebanyakan meletakkan rombong atau gerobak atau meja kursi hingga teras dan selasar. Padahal sesuai desain awal, area itu untuk pengunjung dan pembeli berlalu lalang. Area parkir pun menyempit, banyak orang yang jalan lewat tempat yang seharusnya area parkir. Tak jarang, ketika lewat ada pembeli bersusah payah mencari jalan lain. Apalagi, ketika membawa belanjaan yang banyak dan pakai trolley. Harus digotong. Perlu tenaga ekstra. Unsafe action. Kadang harus rela kehujanan, agar cepat lewat. Enggan mencari jalan putar. Unsafe behaviour. Mereka mengalah sembari menggerutu. Pengelola pun nampak tidak ada tindakan. Sehingga tambah banyak toko atau lapak yang melakukan hal serupa.

Bisa jadi ini dianggap sepele. Remeh temeh. Tapi contoh ini bisa disebut miskin empati. Coba jika penjual tersebut menempatkan diri pada posisi seperti pembeli yang bawa belanjaan banyak, bawa kereta dorong hasil belanja, dan ditambah bawa anak. Hujan deras pula. Betapa repotnya. Punya potensi celaka.

Padahal jika ia mengembalikan hak pengunjung, teras dan selasar dikembalikan pada fungsinya. Bisa jadi rezeki bertambah. Minimal, usahanya tidak menjadi tempat gerutu atau kekesalan orang lain. Pengunjung dan pembeli lebih aman dan selamat. Keberkahan usaha bertambah. Insya Allah.

Itu salah satu contoh. Tentunya ada dan masih banyak contoh lain. Malah kemiskinan empati yang jauh lebih besar. Tapi berangkat dari hal yang kecil, sesuatu perubahan dimulai. Itulah kenapa empati menempati posisi penting dalam Islam.

“Pertolongan Allah akan senantiasa menyertai seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Mari kita kikis kemiskinan empati. Kita berempati di mulai dari diri sendiri.  Semoga dengan menumbuhkan sifat empati ini, kita menjadi bangsa besar.Bangsa yang membumikan ajaran luhur Islami. Bangsa yang kuat.

Silahkan share jika bermanfaat!

Transit dan Silaturahmi

Tak jarang ketika melakukan perjalanan jauh, kita disuguhkan momen transit. Karena tidak ada sarana transportasi yang langsung ke kota tujuan. Harus oper alias pindah moda transportasi atau pindah alat angkut. Hal ini sering terjadi pada penerbangan baik domestik maupun internasional.

Waktu transit di sebuah airport perlu dioptimalkan. Bisa sembari menulis pesan. Berkabar dengan orang yang dicintai. Ada lagi, menyambung silaturahmi. Kok bisa? Ya, saat merencanakan bepergian, kebanyakan dari kita membuat rencana perjalanan. Itinerary. Kita akan singgah di kota mana. Ada sanak saudara atau teman. Pengalaman perjalanan kali ini juga melakukan hal serupa.

Alhamdulillaah, puji syukur, ada keluarga Indonesia, yang selalu ‘enthengan‘ (ringan waktu dan sangat suka menolong). Sudah banyak orang yang menceritakan dan punya pengalaman atas respectful hospitalitynya. Saya sudah beberapa kali merasakannya. Sepekan sebelum bepergian, kami sudah berkontak dan disambut dengan hangat. Kebetulan ia tidak sedang bepergian pada waktu yang sama. Klop. Sambutan yang hangat. Antusiasme awal saja sudah begitu menggoda. Ingin banget rasanya ingin ketemu muka.

Waktu yang direncanakan pun tiba. HP baru saja dinyalakan di terminal kedatangan. Seperti dugaan, WA muncul, banyak sekali. Tentunya yang dicari paling awal adalah WA dari sahabat saya satu ini. Benar. Sudah rinci sekali memberi petunjuk ketemu di pintu mana. Plus foto lokasi supaya segera menemukan area yang dimaksud.

Ternyata ia membawa keluarga yang lain. Kejutan. Tambah seru. Walhasil, kami pun ngobrol santai sekaligus saling update cerita pengalaman. Tentunya sambil ditraktir makan. Waktu ketemu 2 jam terasa singkat.

Keluarga asli Malang Jawa Timur ini, mengamalkan dengan mudah dan praktis pesan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”

Keluarga ini menjadi salah satu bukti. Sang kepala keluarga, yang satu alumni ini, tambah sehat. Nampak lebih muda dari usianya. Satu lagi, ia sampai saat ini diberi amanah menjadi pemimpin perusahaan jasa energi. Satu-satunya jajaran direksi yang berasal dari Indonesia. Ia salah satu kebanggaan alumni dan juga Indonesia.

Semoga apa yang dilakukannya, meski nampak kecil dan ringan, menjadi amal kebaikannya. Sembari silih doa, kita juga diberikan keberkahan silaturahmi.

Silahkan share jika bermanfaat!

Rambu Paling Dicari

Perjalanan dari kota kediaman ke daerah lain, banyak dilakukan orang. Tak jarang perlu mempelajari lebih awal apa, bagaimana, dan hal lain tentang daerah tujuan. Upaya adapatasi. Terlebih jika bepergian beda negara.

Bandara baik domestik maupun internasional ada banyak disediakan rambu. Mana terminal atau pintu keberangkatan. Penunjuk arah letak tempat mengisi ‘bensin’ alias obat kelaparan. Dimana rest room alias kamar kecil. Lounge untuk bersantai. Tak lupa juga, bagi yang beragama Islam, mencari tanda tempat sholat. Mushola. Khusus Rambu Prayer Room ini yang tidak banyak dijumpai di international airport.

Alhamdulillaah, puji syukur rambu itu masih bisa ditemukan pada salah satu bandara yang pada tahun 2025 tercatat melayani 70 juta penumpang per tahun. Itu artinya ada 191 ribu orang pergi dan masuk bandara per hari. Bandara ini berada pada negeri yang populasi non muslimnya dominan. Spesial memang.

Respectful hospitality seperti ini yang ada pada bandara internasional sangat mengena dan terasa spesial. Semua urusan dipermudah termasuk urusan yang sangat personal dan spiritual. Negeri itu sumber daya alamnya terbatas. Mereka sadar atas kekurangannya. Mereka fokus pada people dan proses.

Buktinya? Beberapa saja yang nampak.

Ketika ada yang kebingungan atau ingin tahu sesuatu di bandara itu, disediakan alat bantu yang mempermudah menjawab kebingungan. Informasi lengkap. Bisa beberapa bahasa. Wow, mereka menerapkan wayfinding engineering.

Proses yang berhubungan dengan keluar masuk bandara pun mudah. Tidak menyulitkan tapi tetap mengedepankan keamanan baik pribadi, masyarakatnya, maupun negaranya. Pakai teknologi yang dimutakhirkan terus alias updated.

Manusia atau warganya suka membantu. Ketika kesulitan dan kebingungan, bertanya kepada petugas mendapat pengalaman yang membuat kagum. Sepanjang pengalaman, saya belum mendapatkan jawaban :

“Saya tidak tahu.” atau “Tanya saja ke bagian informasi.”

Belum pernah menemukan jawaban serupa itu. Jika ada petugas yang gelagapan pun ketika ditanya, ia minta waktu sebentar. Telpon rekannya pakai HP. Kontak pakai HT mencari tahu kepada yang lain. Atau ada juga yang membuka dan klik aplikasi untuk membantu penanya. Solutif. Sangat membantu.

Pantas bandara itu mendapat penghargaan sebagai bandara terbaik di dunia versi Skytrax. Pantas negeri itu maju pesat luar biasa. Tak jarang, negara itu menjadi panutan dan role model bagi negara lain.

Hikmah perjalanan yang luar biasa.
Patut direplikasi di seluruh aspek di negeri yang kita cintai ini.

Silahkan share jika bermanfaat!

Perpindahan dan Pelajaran

Sepuluh Intisari dari Satu Ayat by Chairul Hudaya *)

Beberapa hari lalu, saya mendapat pencerahan dari seorang calon guru besar muda yang berprestasi dan produktif. Bagaimana sebuah kalam ilahi yang disaripatikan selalu relevan dengan kondisi yang saya alami (atau bahkan kebanyakan dari kita). Tentu saja menggugah hati dan menjadi bahan perenungan.

Saya salin kembali sebagai pengingat saya dan juga sahabat semua.

Kalam Ilahi yang mana? Ayat Al Qur’an yang terdapat pada surat ke-23, Al Mu’minun, tepatnya pada ayat ke-29, yang artinya:

Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”.

Terus, apa intisarinya?
1. Latar Belakang/Awal Cerita. Setelah banjir besar yang menghancurkan kaumnya, Nabi Nuh dan para pengikutnya akhirmya selamat di atas bahtera, memasuki fase baru kehidupan yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

2. Doa di Tengah Ketidakpastian. Di momen penuh ketidakpastian itu, Nabi Nuh tidak langsung berbicara tentang rencana atau strategi, tetapi memanjatkan doa agar ditempatkan pada tempat yang diberkahi oleh Allah.

3. Makna Perpindahan Hidup. Perpindahan yang dilami Nabi Nuh bukan sekedar berpindah tempat, tetapi berpindah fase kehidupan. Dari masa ujian menuju harapan, dari kehancuran menuju kemungkinan baru.

4. Inti Pesan Ayat. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap perpindahan hidup seharusnya tidak hanya didorong oleh kebutuhan duniawi, tetapi juga disertai permohonan agar langkah tersebut membawa keberkahan.

5. Relevansi dengan Merantau. Seperti Nabi Nuh yang memulai hidup baru, banyak orang hari ini merantau dengan harapan yang besar. Namun, sering lupa untuk memastikan bahwa tempat yang dituju adalah tempat yang baik bagi dirinya.

6.Makna Tempat Yang Baik. Tempat yang baik bukan selalu yang paling menjanjikan secara materi. Tetapi, tempat yang menjaga nilai, memberi ketenangan, dan tidak menjauhkan seseorang dari prinsip hidupnya.

7. Relevansi dengan Dunia Kerja. Dalam memilih pekerjaan, seringkali pertimbangan hanya berhenti pada gaji dan posisi. Padahal, ayat ini mengajarkan bahwa keberkahan tempat bekerja dari Allah SWT jauh lebih menentukan arah hidup seseorang.

8.Dari Pekerjaan ke Jabatan. Ketika seseorang berkembang hingga memegang jabatan, ia sebenarnya sedang “ditempatkan” pada posisi tertentu oleh Allah SWT. Bukan sekedar mencapainya dengan usaha pribadi semata.

9. Kesadaran dalam Memegang Amanah. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jabatan adalah bentuk penempatan dari Allah SWT, sehingga harus dijalani dengan tanggung jawab, bukan sekedar kebanggaan atau kekuasaan.

10. Reflaktif. Dari kisah Nabi Nuh, kita belajar, bahwa dalam setiap perpindahan, apakah merantau, bekerja, hingga menduduki jabatan, yang paling penting bukan hanya bergerak maju, tetapi memastikan kita berada di tempat yang diberkahi.

Dari doa Nabi Nuh sekaligus Kalam Ilahi QS Al Mu’minun ayat 29, kita belajar bahwa tempat terbaik bukan yang kita pilih, tapi yang Allah tetapkan.

Wallaahu’alam bish showab

Semoga berkenan.
.

*) Chairul Hudaya, Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia. Alumni S1 Teknik Elektro Universitas Indonesia. Melanjutkan studi S2 di Seoul National University dan S3 di University of Science & Tecknology, Korea Selatan. Pernah dipercaya sebagai Rektor Universitas Teknologi Sumbawa, NTB.

Silahkan share jika bermanfaat!

Followership Bernilai Ibadah

Kepemimpinan adalah peran yang dijalankan oleh seseorang yang diberikan kepercayaan oleh pengikutnya guna memikul tanggung jawab sebagai perwakilan organisasi. Seorang leader umumnya berasal dari pengikut. Leader tanpa follower, tak akan ada. Pemimpin tanpa pengikut, bukan pemimpin sebenarnya. Sehingga, pemimpin dengan pengikut tak dapat dipisahkan. Satu paket lengkap.

Follower wajib taat kepada pemimpinnya selama bukan dalam kemaksiatan. Dalam agama Islam, ada pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad:

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci, kecuali jika ia disuruh berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.”

Follower ini bukan sembarang pengikut. Pengikut yang dapat membawa manfaat. Alm. Dr. Handry Satriago, CEO GE Indonesia 2011-2023, dalam disertasinya : Examining The Followers’ Influence on Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect, menyatakan bahwa:

“Peranan dan kemampuan pengikut atau bawahan atau follower secara aktif memengaruhi dan berdampak positif pada kinerja pimpinan (leader) dan keberhasilan organisasi. Di samping itu, persepsi, keyakinan, dan perilaku kritis pengikut atau follower terhadap pemimpinnya atau leader secara positif berhubungan dengan tingkat kinerja pemimpin tersebut.

Contoh sehari-hari followership ini adalah pelaksanaan sholat berjamaah. Makmum tidak pernah mempertanyakan siapa imamnya. Ia berbaris berderet dan berbaris rapi ketika iqamah dikumandangkan. Makmum sholat berjamaah, tunduk/mengikuti (mutaba’ah) kepada imam.

Ada lagi yang fenomenal. Masih ingat kisah Khalid bin Walid, Panglima Perang yang Ahli Strategi dan Pemberani. Ia memenangkan setiap pertempuran yang dipimpinnya. Beliau mendadak diganti oleh Umar bin Khattab RA. Apa reaksinya?

“Demi Allah, jika Kamu menunjuk seorang anak kecil untuk memimpinku, aku akan menaatinya. Bagaimana mungkin aku tidak menaatimu ketika derajat keislamanmu jauh lebih baik daripada aku. Dan kamu telah dijuluki sebagai “Yang dipercaya oleh Nabi”? Aku tidak akan pernah mencapai status itu. Aku umumkan di sini dan sekarang bahwa aku telah mendedikasikan diriku menuju jalan Allah yang Maha Tinggi”

Itu jawaban spontan dan lugas Khalid bin Walid. Beliau mengeluarkan pernyataan untuk Umar bin Khattab RA, dihadapan Abu Ubaidah, panglima perang penggantinya. Sesaat setelah beliau dibebastugaskan oleh Umar bin Khatab RA.

Apa yang terjadi setelah itu? Apa beliau berkemas lalu pulang? Muthung? Tidak! Sama sekali tidak! Beliau, masya Allah, tetap berperang di bawah komando Abu Ubaidah. Ia menjadi followernya Abu Ubaidah.

Terlihat jelas bahwa pengikut yang baik dan setia adalah mitra kritis. Bagaimana menjadi mitra kritis itu ?

  1. Kritis dan  memiliki pendirian. Mau dan mampu menelaah, bahkan memberikan pendapat bertolak belakang sekali pun. Namun, tetap berpegang teguh pada value, dalam hal ini Al Qur;an dan Hadits.  Bukan, sekedar ‘yes man‘.
  2. Aktif berinteraksi. Berdiskusi dan bahkan berani berdebat berdasarkan data dengan pemimpin.
  3. Memberikan ide dan nilai. Memberikan masukan yang konstruktif dan juga nilai yang dipahami bersama. Bahkan jika itu bertentangan dengan ide pemimpin.

Terus apa manfaat menjadi pengikut setia alias mitra kritis? Tentu saja organisasi menjadi kuat dan berkembang. Kok bisa? Iya, karena good follower akan menciptakan pemimpin yang efektif. Timbul rasa saling menghargai dan percaya. Respect dan trust ini adalah modal utama menjadikan organisasi yang kuat dan berkembang. Mari menelisik firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa ayat 59 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Muhammad, dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Dan juga sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

“Barangsiapa yang taat kepadaku, berarti ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa yang durhaka terhadapku maka ia telah durhaka terhadap Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin (amir), maka ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka terhadap pemimpin maka ia telah durhaka kepadaku.”

So, menjadi follower yang baik bisa menjadikan organisasi maju dan berkembang. Tentunya, hal yang baik itu akan menjadi tambahan catatan amal kebaikan kita. Followership pun bisa bernilai ibadah.

Wallaahu a’lam bishawab.

Silahkan share jika bermanfaat!

Beras Jatah dan Harapan

Pada tahun 1980-an hingga 1990-an, masih banyak pemandangan seorang pegawai negeri sipil dan/atau anggota TNI/Polri membawa beras jatah pada akhir bulan. Tak terkecuali dosen. Ada yang beras jatahnya dijual. Uang hasil penjualan menjadi penghasilan tambahan. Beberapa, dibelikan beras dengan varietas yang lain. Pembelinya bisa koperasi atau toko mracang di pasar.

Pemandangan itu membuat beberapa mahasiswa Fakultas Teknik punya ide. Beberapa dosen mendapatkan beras bulanan melalui koperasi. Kami melakukan komunikasi dan memperoleh kesepakatan harga. Sehingga dalam 1 tahun, akan mendapatkan dana yang tetap. Ada tambahan layanan, uang tunai diurus dan diantar langsung. Sehingga tidak perlu repot ulang alik ke koperasi. Margin yang fixed adalah sepuluh rupiah per kilogram. Ya, Rp. 10,-/Kg. Sebagai gambaran uang kuliah saat itu Rp. 120.000,- per semester.

Dana itu kami kelola. Setiap awal bulan, kami bergiliran ke koperasi. Uang tunai hasil penjualan diambilkan lantas diantarkan kepada masing-masing dosen menggunakan amplop coklat. Kadang titip juga ke Pegawai Tata Usaha, jika tidak ketemu dosen yang dituju. Zaman itu belum banyak transaksi menggunakan transfer atau sejenisnya. Masih jadul. Cash keras.

Lha . . terus kemana larinya uang lebih tadi? Anak-anak muda tadi membuat Yayasan. Namanya Yayasan Persaudaraan. Kegiatannya fokus : pengumpulan/penjualan beras jatah dan membantu siswa/mahasiswa yang membutuhkan dukungan dana.

Sumber dananya dari dana ‘keuntungan’  pengelolaan beras jatah. membiayai mahasiswa dan siswa SMA/SMK yang berotak cemerlang, namun kurang beruntung secara ekonomi. Punya potensi putus sekolah. Dana itu setiap awal bulan, diantar ke rumah siswa. Sekalian bertemu siswanya dan juga orang tuanya. Seleksinya pun sederahana, getok tular alias dari mulut ke mulut. Di tambah kesaksian para pengusul.

Beberapa dosen suatu saat, ada yang tahu cerita kemana larinya uang beras jatah itu. Ketika mereka tahu bahwa untuk bea siswa. Mereka marah.

Lho, koen iku kok nggak kondo-kondo, lek ojir e di gawe mbiayai arek sekolah. Ngerti ngono aku nggak gelem nerimo ojir tekan dodolan beras jatahku“, begitu ujar salah satu dosen. (Terjemahan bebasnya: Kenapa kamu tidak cerita, jika dana itu digunakan untuk bea siswa. Kalau tahu seperti itu, saya tidak mau menerima uang hasil penjualan beras jatah).

Pertemuan atau lebih tepatnya pemanggilan itu, menjadi awal. Kekagetan menular. Beliau para dosen, ingin turut berbagi. Alhamdulillaah.

Walhasil, dosen yang tahu kegiatan kami, justru memberikan semua hasil penjualan beras jatahnya. Tidak mau lagi menerima amplop coklat kami. Kami pun kewalahan, dana tambah banyak. Positifnya, penyaluran ditambah, terutama usulan siswa yang pernah ditunda, karena kekurangan dana.

Pengurus Yayasan Persaudaraan pun silih berganti. Ketika pengurus akan lulus, kami mencari mahasiswa penerima estafet pengelolaan. Hand over, bagaimana tata kelola mengurus perputaran beras jatah, kemana penyalurannya hasil penjualan. Plus ada laporan keuangannya. Hampir dipastikan saldonya nol  setiap akhir bulan. Jika ada tambahan pemasukan, maka mencari lagi siswa/mahasiswa yang membutuhkan.

Pengurus terakhir yang saya ingat adalah seorang mahasiswi yang saat ini menjadi petinggi salah satu perusahaan multi nasional industri pengolahan susu. Sayangnya, setelah itu tidak terlacak. Apa pun itu, semoga menjadi amal kebaikan bapak/ibu dosen dan juga para pengurus.

Beras jatah itu telah banyak memberikan harapan baru.

Silahkan share jika bermanfaat!